Belajar Daring di Sekolah 'Santa' Korona

Posting Komentar
Belajar Daring di Sekolah 'Santa' Korona

Tahun Ajaran Baru 2020-2021 telah berlangsung kurang lebih 4 bulan. Tidak seperti biasanya, kali ini sekolah berlangsung semi-daring. Saya sebut semi daring, karena proses pembelajaran tak sungguh berlangsung seratus persen daring (live-streaming).

Kebanyakan sekolah justru mengambil jalan tengah atas segala keterbatasan yang dihadapi guru dan siswa. Hambatan itu antara lain, keterbatasan smartphone siswa, biaya kuota internet yang sangat besar, gapteknya para guru, keterbatasan fasilitas seperti kamera, wifi dll dari pihak sekolah.

Sebagaimana pernah saya tulis di blog pribadi saya lusius-sinurat.com, kelas online adalah pengganti pembelajaran konvensional, karena pandemi korona sedang menjadi ancaman bagi kesehatan dan keselamatan siswa dan guru.

Pada awalnya kelas online ini sangat menyenangkan bagi anak-anak. Awalnya, para guru mempersiapkan materi pengajarannya dengan sangat baik, lalu ia presentasikan secara online dari ruang kelas di sekolah.

Pada awalnya, anak-anak juga sangat menikmatinya.Mungkin saja akan tetap menarik seandainya pembelajaran daring ini hanya dilakukan dalam waktu singkat. Bagimana pun juga, anak-anak butuh teman.

Di sekolah mereka pasti bertemua teman-teman barunya, berinteraksi dengan guru-gurunya, dan lebih penting mereka bisa menikmati fasilitas yang ada di sekolah Mereka bisa berolahraga, bermain musik, diskusi kelompok, berkompetisi di kelas, dst. Sayangnya semua itu hilang bersamaan dengan semakin ngerinya penyebaran virus korona.

Anak-anak merasa terpenjara di rumah, termasuk bersekolah via layar gawai mereka. Tak sedikit anak merasa terpenjara oleh situasi ini. Saban hari mereka bertemu dengan orang yang sama. Di sisi lain, para orang tua juga merasa direpotkan dengan situasi ini.

Mereka harus menjadi guru sekaligus pengajar bagi anak-anak mereka. Tentu ini semakin memberatkan mereka disamping menyediakan gawai/laptop khusus dan membelikan kuota internet untuk anak-anak mereka. Tragisnya, kewajiban dan hak pun tak seimbang.

Orangtua harus membayar SPP untuk kebutuhan sekolah yang kursinya bahkan belum pernah mereka duduki, atau menggaji guru yang lebih sering tampil garing saat mengajar.

Belum lagi oal kerugian ekonomi dari kedua belah pihak: orang tua dan sekolah. Pengeluaran orangtua semakin besar, sementara pihak pengelola sekolah juga butuh dana yang lebih besar untuk merawat gedung sekolah karena tak lagi difungsikan.

Guru-guru lebih repot lagi. Di satu sisi mereka harus mempersiapkan materi yang akan mereka ajarkan, tetapi juga mereka harus mengawasi anak mereka sendiri. Belum lagi keterbatasan guru di bidang penggunaan teknologi.

Akibatnya, menarik atau tidak menariknya tampilan visual-animatif dari guru saat mengajar daring akan membuat anak-anak bosan mengikutinya. Apalagi, sejauh ini, anak-anak selalu diberi PR oleh guru di setiap akhir pembelajaran daring.

Lebih parah lagi, atas berbagai alasan, para guru pada akhirnya hanya mengirimkan video pembelajaran di Group Class. Materi video berdurasi 15 menit itu pun hanya rekaman si guru sedang membaca materi dari guru dan direkam via gawainya secara selfie.

Sebagai orangtua kita hanya bisa berserah dan menerima fakta ini. Selain karena kesehatan anak kita jauh lebih penting, juga karena kita sangat mengerti kompetensi guru-guru di negara kita.

Di atas segalanya itu, kita juga sadar bahwa situasi pandemi ini jangan sampai menghalangi anak-anak mewujudkan cita-cita mereka.Sebagai orangtua, kita pun hanya bisa berharap agar para guru semakin kreatif membuat materi pembelajaran hingga anak-anak kita tidak bosa belajar, dan sebaliknya mereka dapat lebih menikmati pembelajar daring ini


PenaSinergi
Media Pendidikan dan Pelatihan (HC Consulting, Training & Coaching, Counseling & Facilitating for Personal Development, Self-Awareness, Leadership, and Communication & Excellent Attitude) dalam rangka pengembangan kualitas SDM Indonesia. Kirimkan tulisan Anda ke [email protected]

Related Posts

Posting Komentar

Follow by Email