Merdeka Belajar vs Belajar Merdeka

Posting Komentar
Merdeka Belajar vs Belajar Merdeka


PenasinergiCom - "Namanya sekolah ONLINE, tapi faktanya lebih sering OFFLINE. Anakku pun selalu mengeluh, karena setiap hari ia hanya dikirimi video pembelajaran, plus PR," keluh ibu Ivonny di WhatsApp Group khusus para orangtua murid.

Ibu Ivonny benar. Dalam hari Senin hingga hari Sabtu, anak-anak disuhi 16 jam pelajaran. Senin Kamis masing-masing 3 pelajaran per hari; dan Jumat-Sabut dua mata pelajaran per hari. Artinya, selama 16 jam dalam seminggu anak-anak harus online khusus untuk sekolah.

Konsekuensinya, dalam seminggu anak-anak juga harus mengerjakan 16 buah PR, karena setiap satu jam pembelajaran, mereka hampir selalu dikirimi PR via whatsapp atau GC (Group Class) yang disediakan Google.

Pandemi korona adalah alasan utama mengapa sekolah ditutup, dan persekolahan dikonversi menjadi sekolah daring. Artinya, tak ada lagi pertemuan langsung dan nyata, baik antara guru dan siswa, maupun antar-siswa sendiri.

Ruang kelas pun dikonversi menjadi "ruang-ruang virtual", di mana guru mengajar "di sana" dan siswa mendengarkan "di sini". Presendi pun berlangsung digital, 5-10 menit sebelum pelajaran di mulai. Guru lalu memulai pelajaran secara daring dari ruang kelas di sekolah.

Sayangnya praktik ini hanya terjadi di awal masuk sekolah saja. Entah karena mayoritas guru kelabakan karena tak mahir teknologi, saat ini lebih banyak pembelajaran semu-daring. Teknisnya, guru mengirim video pembelajaran yang telah ia siapkan ke murid. Selama kurang lebih satu jam murid menonton, hingga 15 menit terakhir guru memberi PR sebagai tolok ukur sejauh mana siswa menangkap saripati materi yang ia berikan. 

Tentu pilihan ini bukan pilihan terbaik. Sebab, pembelajaran daring (atau siaran langsung) jauh lebih efektif, karena guru dapat melihat siswa di melalui layar tertera di laptopnya, atau LCD yang tersedia di ruang kelas. 

Sayangnya, seperti telah saya singgung tadi, Tak banyak guru yang dengan cepat belajar menggunakan sarana teknologi informasi canggih yang ada di genggamannya. Sebab waktu mereka lebih banyak mempersiapkan materi powepointnya, dan bila daring, mereka harus mengasah kemampuan public speaking-nya di ruang maya, di mana ia harus fokus pada kamera.

Di sisi lain, anak-anak jaman yang sangat mudah bosan ini, mulai membandingkan video-video kreatif yang terpampang di youtube dengan video kiriman gurunya. Melihat tampilan digital yang itu-itu saja dari guru tak ayal lagi membuat mereka malas. Di titik ini, guru harus mampu mengajar sesuai dengan jamannya: kreatif, inovatif dan efektif. 

Ketika guru secara monoton berbicara sambil menunjuk-nujuk buku atau white-board atau menyorot materi presentasinya di monitor in focus, maka siswa-siswinya dari rumah akan mencari kesibukan sendiri.

Dalam pikirannya mereka merasa masiha ada Google yang akan membantu mereka saat mengalami kesulitan memahami gurunya. Alasan "garing" ini pula yang membuat siswa-siswainya  tak tertarik mendengarkan sang guru, kecuali demi memudahkan mereka mengerjakan PR. 

"Saya sering bertanya kepada anak saya tentang apa yang barusan ia pelajari. Hampir setiap selesai pejalaran saya bertanya ke anak saya, dengan maksud check and recheck kualitas pembelajaran online yang digagas mendikbud kita. 

Jawabannya sungguhs sangat mengejutkan. Anak saya mengatakan kalau dia sudah lupa, tepatnya tak mengerti apa yang diajarkan guru lewat video pembelajaran yang dikirimnya," curhat ibu Yanti, masih di ruang diskusi WAG yang sama dengan ibu Ivonny.

Dunia memang berubah, dan kita berubah bersamanya. Ketika pandemi belum menggerogoti dunia, maka hidup terasa normal, dan semua bisa kita lakukan secara nyata. Tetapi apa boleh dikata. Faktanya, kehidupan kita terganggun oleh virus korona yang mematikan itu. Jadi kita harus saling menjaga, saling melindungi dan saling berbagi dalam jarak tertentu.

Anak-anak mungkin menjadi pihak yang paling dirugikan. Kebiasaan bermain bersama teman-temannya hilang. Kesempatan mendapatkan teman baru di sekolah pun tak ada lagi.  Bahkan, anak-anak kelas satu SD, satu SMP, atau satu SMA/SMK belum pernah menduduki kursi di ruang kelas, bahkan wajah gurunya pun hanya bisa ia kenali lewat pembelajaran daring.

Tentu saja, sebagai mahluk kreatif, guru harus mampu menyesuaikan diri lebih cepat daripada murid-muridnya. Ketika metode klasik dan konvensional tak bisa lagi digunakan, maka guru harus segera beralih ke metode baru. Memang hal ini tak mudah untuk semua guru, terutama para guru yang sudah mendekati usia pensiun. 

Namun bukan berarti tidak mungkin, bukan? Guru-guru muda harus menjadi terdepan dalam mengembangkan sekolah dalam teknolgi. membantu mereka mengakrabi internet, dan belajar membuat materi audio-visual saat mengajar.

Sayangnya, hingga hari ini, hanya sebagaian kecil guru yang berhasil memanfaatkan teknologi informasi dengan baik. Sebagian besar justru mencari jalan pintas. Misalnya, si guru hanya membacakan materi pelajaran lalu merekamnya dengan gawai lalu dikirim via WA ke siswa-siswanya. Ya, samasekali tidak menarik. Tidak animatif, apalagi atraktif. Hingga anak-anak tak tertarik mendengar si guru tersebut.

Padahal, pandemi ini semestinya menjadi kesempatan bagi para guru di Indonesia ini untuk melakukan lompatan kuantum dalam hal penguasaan teknologi, hingga tak ketinggalan dari siswa-siswinya.

Itu sebabnya, hingga kini masih banyak orangtua yang wajib membayar SPP bulanan, membeli semua buku mata pelajaran, ditambah pengeluaran pembelian kuota internet anak-anaknya justru merasa tidak mendapatkan feedback yang setimpal dari pihak sekolah.

Tapi bagaimana lagi? Toh selama negara ini merdeka, bidang pendidikan selalu menjadi korban dari berbagai kebijakan pemerintah. Bila medikbud Nadiem Makarim memproklamirkan slogan "merdeka belajar", kini anak-anak justru merasa "diajajah sistem pembelajaran daring yang tak saja garing, tapi juga membebani mereka."

Mari berjuang dari penjajahan sistem pendidikan, agar, seperti keinginan Nadiem, anak-anak bisa belajar merdeka dari berbagai tekanan.

Selamat pagi.

Penulis: Lusius Sinurat
PenaSinergi
Media Pendidikan dan Pelatihan (HC Consulting, Training & Coaching, Counseling & Facilitating for Personal Development, Self-Awareness, Leadership, and Communication & Excellent Attitude) dalam rangka pengembangan kualitas SDM Indonesia. Kirimkan tulisan Anda ke [email protected]

Related Posts

Posting Komentar

Follow by Email