Sekolah Swasta di Medan Butuh Bantuan Pemerintah

Salah satu sekolah swasta di Medan
PENASINERGI - Dunia pendidikan merupakan salah satu sektor yang sangat terdampak pandemi Covid-19, khususnya di Kota Medan. Selain karena 75% uang sekolah yang menunggak, kebijakan PemKo Medan yang meminta semua sekolah tidak memungut uang pembangunan selama pandemi Covid-19 juga turut berpengaruh pada keuangan sekolah, terutama sekolah swasta.

Menurut Plt. Walikota Medan Akhyar Nasution, kebijakan di ini diambil karena banyak keluarga yang kehilangan pendapatan dan pekerjaan sebagai dampak Covid-19. Bahkan ada orangtua yang menunda anaknya sekolah selama satu tahun, karena keuangan keluarga terpuruk. 

"Ini seharusnya tidak terjadi. Karena itu Pemko Medan meminta sekolah memberikan keringanan," kata Akhyar saat menerima perwakilan Badan Musyawarah Perguruan Swasta (BMPS) Kota Medan, Kamis (4/6/2020)

Ketua BMPS Kota Medan M Arif mengatakan, mereka berharap pemerintah bisa memberikan bantuan khususnya kepada perguruan swasta yang ekonominya terpuruk. Keuangan sekolah terpuruk karena harus membayar operasional seperti gaji guru tetapi pemasukannya anjlok karena uang sekolah menunggak.

“Kami akan segera mendiskusikan dan menyiapkan rujukan formulasi pemberian bantuan kepada perguruan swasta. Kami berharap bantuan ini bisa menjamin kelangsungan kegiatan belajar-mengajar secara daring selama pandemi ini,” kata Arif.

Untuk menolong perguruan swasta dari keterpurukan, Akhyar akan menyiapkan formula dan skema pemberian bantuan. 

“Kami siap memberikan bantuan kepada sekolah swasta. Kami akan melihat dulu regulasi dan ketentuan sebelum memberikan bantuan agar tidak menjadi masalah ke depan,” kata Akhyar.

Akhyar mengatakan, tantangan terbesar dalam menerapkan normal baru adalah pada dunia pendidikan. Akhyar menyebut sekolah di Medan belum memasuki normal baru dalam waktu dekat. 

Gubernur Sumatera Utara Edy Rahmayadi pun telah mengirimkan surat edaran kepada kabupaten/kota agar sekolah tidak dibuka sampai pemberitahuan berikutnya.

Menurut Akhyar, sekolah belum siap secara infrastruktur dan kultur pendidikan untuk menerapkan protokol kesehatan Covid-19. 

“Tentu akan sangat sulit meminta anak-anak untuk tidak bermain dan menjaga jarak dengan temannya,” lanjutnya.


Sementara itu, Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Sumut Aris Yudhariansyah mengatakan, dalam sehari belakangan kasus baru positif Covid-19 di Sumut bertambah cukup signifikan yakni 44 kasus. 

Total kasus positif di Sumut hingga Kamis pukul 17.00 mencapai 488 kasus. “Kami meminta masyarakat semakin waspada karena penularan masih terus meningkat,” katanya.

Sumber: kompas.id