Membangun Karakter Pendidik

Posting Komentar
Membangun Karakter Pendidik
PENASINERGI - Realitas hari-hari ini menampilkan manusia yang memiliki kerangka berpikir sendiri-sendiri. Kerangka berpikir tersebut menjadi landasan seseorang untuk berpikir, berbicara dan bertindak, termasuk dalam menuntaskan persoalan hidupnya.

Pola pikir guru ternyata turut membentuk pola pikir anak didiknya. Sebut saja guru seni yang tidak kreatif yang selalu menyuruh anak didiknya menggambar pemandangan dengan pola yang sama: dua gunung, matahari bersinar dari antara dua gunun itu, jalan raya lengkap dengan jaringan listrik yang tertata rapi, dengan pemandangan sawah di sebelak kanan dan sebelah kirinya. Ada dangau ditengah sawah yang menampilkan tanaman padi menguning dan siap dipanen.

Saat ini juga terjadi degradasi moral yang berikutnya menjadi awal dari kehancuran sebuah bangsa. Tak hanya Inodonesia, di seluruh lapisan bumi seluruh bangsa sedang menyaksikan degradasi moral itu dan hingga kini belum tuntas diatasi.

Jamak terjadi kekerasan dan tindakan anarki, pencurian, tindakan curang, pengabaian terhadap aturan yang berlaku, tawuran antar pelajar/mahasiswa, intoleransi, penggunaan bahasa yang tidak baik, kematangan seksual yang terlalu dini hingga berbagai penyimpangannya, perusakan diri, dst.

Di satu sisi negara berupaya melakukan perbaikan sistem hukum dan tata aturan berlaku, dan di sisi lain persoalan degradasi moral juga sedang diatasi lewat jalur agama.

Pembangunan karakter bangsa oleh Pemerintah juga sedang digalakkan lewat revolusi mental, yang konon katanya akan melahirkan SDM Unggul di tahun 2045. Melalui kurikulum pendidikan, bangsa ini juga sedang mencari jalan keluar (way out) untuk menuntaskan persoalan degradasi moral di atas. Pemerintah bahkan mengupayakan pembangunan karakter secara sistematis melalui satuan pendidikan sejak usia dini hingga pendidikan tinggi. (Kemendiknas, 2010).


Pendidikan sebagai sebab dan akibat

Pendidikan itu bisa sebagai sebab, tetapi sekaligus juga sebagai akibat. Lihatlah apa yang terjadi ditengah masyarakat kita. Masyarakat kita menyukai cara berpikir yang paradoks.

Akibatanya, ketika terjadi keleliruan dan kejahatana, masyarakat kita secara spontan akan menyalahkan pendidikan: “Ai bohama antong, tikki i parsikkolaan, so hea diajari guruna akka nadenggan.” (Habis gimana, di sekolah, guru-guru itu malah tidak pernah mengajari hal-hal baik). Sebaliknya, ketika terjadi kedamaian atau keberhasilan seseorang/kelompok tertentu, orang langsung sujud syukur kepada Allah dan memuliakan agamanya.

Anggapan bahwa pendidikan itu ibarat rahim bagi calon anggota masyarakat sungguh tak terhindarkan, sehingga para guru dituntut untuk meningkatkan peranan mereka: dari sekedar pengajar sekaligus menjadi seorang bidan. Demikian central-nya peran guru dalam pendidikan karakter, hingga ia kerap disebut sebagai bidan yang membantu proses kelahir masyarakat yang berkarakter.

Maka jangan heran apabila terjadi krisis moral (seperti tindakan anarkis, konflik sosial, penuturan bahasa yang tidak santun, seks bebas, semakin banyaknya penggunaan narkoba dan korupsi yang sudah merambah di semua lini), maka guru selalu kena getahnya. Ia selalu disalahkan.


Pendidikan Karakter

Upaya menemukan identitas keindonesiaan kita bermula dari kesadaran negara bahwa Pendidikan adalah kunci keberhasilan dan jaminan mutu kemajuan sebuah bangsa. Pendidikan Karakter, oleh karenanya tak melulu soal pengembangan aspek intelektual, tetapi juga menekankan pertumbuhan aspek spiritual.

Pasal 1 UU Sisdiknas tahun 2003 menegaskan tujuan pendidikan nasional , yakni untuk mengembangkan potensi peserta didik untuk memiliki kecerdasan, kepribadian dan akhlak mulia. Sedangkan Standar Pendidikan Nasional bertujuan menjamin mutu pendidikan nasional dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat. (Pasal 1 PP No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Pendidikan Nasional).

Pendidikan karakter merupakan suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter kepada warga sekolah yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut. Namun pelaksanaan pendidikan karakter seringkali justru keliru:

(1) Banyaknya guru yang beranggapan salah bahwa pendidikan karakter merupakan mata pelajaran baru dan berdiri sendiri sehingga banyak menanyakan kurikulum, silabus dan bukunya. Padahal pendidikan karakter bukanlah mapel karena sesungguhnya sudah ada di dalam setiap mapel yang diajarkan saat ini. Oleh karena itu, pendidikan karakter tidak membutuhkan kurikulum, silabus atau buku yang khusus;

(2) Pendidikan karakter merupakan pengganti mapel PMP atau Budi Pekerti yang ada dulu. Akibatnya banyak guru yang mencoba menyamakan metode pembelajaran dengan ceramah dan mencatat. Padahal pendidikan karakter bukanlah mapel pengganti dan proses pembelajarannya bukan lebih ceramah tapi harus digali secara bersama sama oleh guru dan siswa; 

3.Pendidikan karakter adalah tugas dari guru mata pelajaran Agama dan PKn saja, serta kalau perlu melibatkan guru BK sekiranya terjadi masalah yang terkait dengan karakter siswa. Padahal pendidikan karakter adalah tugas semua guru dari seluruh mapel, karena setiap mapel yang diajarkan pasti memiliki nilai nilai moral yang akan memberi dampak pada kehidupan orang banyak;

4.Pendidikan karakter hanyalah pelengkap atau tambahan saja sehingga tidak perlu diprioritaskan seperti halnya dengan materi akademis. Padahal pendidikan karakter adalah inti dari suatu kegiatan pendidikan karena alangkah berbahayanya seorang siswa yang hanya berkembang dalam hal akademis tapi tidak dalam hal karakter;

5.Pendidikan karakter hanyalah sebuah pengetahuan semata (kognitif) sehingga tidak perlu usaha yang khusus dan terencana. Padahal pendidikan karakter adalah sebuah usaha yang holistik sehingga tidak hanya melibatkan sisi kognitif tapi juga sisi afektif dan psikomotor. 

Dengan demikian, seorang siswa dapat memahami lalu bisa merasakan dan pada akhirnya mau melakukan nilai-nilai yang dianggap baik.


Karakter Pendidik

Salah satu faktor utama yang menentukan mutu pendidikan adalah guru. Gurulah yang berada di garda terdepan dalam menciptakan kualitas sumber daya manusia. Guru berhadapan langsung dengan para peserta didik di kelas melalui proses belajar mengajar.

Di tangan gurulah akan dihasilkan peserta didik yang berkualitas, baik secara akademis, skill (keahlian), kematangan emosional, dan moral serta spiritual. Oleh karena itu, diperlukan sosok guru yang mempunyai kualifikasi, kompetensi, dan dedikasi yang tinggi dalam menjalankan tugas profesionalnya.

Karakter (n) berarti tabiat; sifat-sifat kejiwaan, akhlak; kepribadian; watak (KBBI). Karakter pendidik oleh karenanya harus diikuti oleh pendidikan karakter. Sebab, guru adalah aktor pendidikan karakter

Tahun 2010 Kemendikbud mencanangkan pendidikan karakter sebagai gerakan nasional diseluruh tingkat pendidikan. Salah satu aktor penting yang sangat berperan di sekolah dalam mengembangkan nilai-nilai karakter adalah tenaga pendidik atau guru.

Ciri-ciri keberhasilan Karakter Pendidik dalam pendidikan karakter. Perilaku warga sekolah yang dalam menyelenggarakan pendidikan di mana segala sesuatu yang dilakukan guru mampu mempengaruhi karakter peserta didik.Guru membantu membentuk watak peserta didik. Hal ini mencakup keteladanan bagaimana perilaku guru, cara guru berbicara atau menyampaikan materi, bagaimana guru bertoleransi, dan berbagai hal terkait lainnya. 

Pentingnya guru dalam mengembangkan nilai-nilai karakter merupakan hal yang tidak terbantahkan lagi. Dalam konteks pencapaian tujuan pendidikan karakter, guru memang menjadi ujung tombak keberhasilan tersebut. Guru, sebagai sosok yang digugu dan ditiru, atau menjadi idola bagi peserta didik. Pendidikan karakter adalah segala sesuatu yang dilakukan guru, yang mampu mempengaruhi karakter peserta didik. Salah satu aspek penting dalam pendidikan karakter adalah guru. Dalam kaitannya dengan penerapan pendidikan karakter seorang guru harus memiliki empat kompetensi berikut ini:

Kompetensi Profesional. Pengembangan nilai-nilai karakter melalui kompetensi profesional tampil dalam upaya: pemberian perlakuan kepada setiap siswa sesuai dengan keunikannya masing-masing, pengenalan karakteristik setiap siswa, keterampilan dalam memberikan rangsangan untuk mengoptimalkan pembentukan karakter siswa, penggunaan berbagai sumber belajar dalam melaksanakan pendidikan karakter, pengembangan kegiatan pendidikan karakter sesuai dengan kebutuhan siswa, dan upaya untuk meningkatkan pelaksanaan pendidikan karakter di sekolah.

Kompetensi Pedagogis. Pengembangan nilai-nilai karakter dari kompetensi pedagogik dinilai dari pembuatan RPP dengan mengintegrasikan: nilai-nilai karakter yang akan dikembangkan,  ketersediaan perlengkapan mengajar termasuk media dan alat peraga sebelum kegiatan pembelajaran berlangsung, pendalaman materi ajar, ketepatan waktu saat masuk dan ke luar kelas, pembiasaan siswa berdoa sebelum pelajaran dimulai, dst.

Kompetensi Kepribadian. Pengembangan nilai-nilai karakter melalui kompetensi kepribadian dilihat dari: ketepatan waktu datang ke sekolah, upaya guru untuk tampil rapi dan bersih, upaya guru bertutur kata lembut kepada siswa, upaya guru menghargai semua siswa tanpa membedakan agama, suku, budaya, status ekonomi dan jenis kelamin, upaya guru memberikan teladan yang baik kepada siswa, upaya guru senantiasa menunjukkan sikap sabar dan tenang di depan siswa, upaya guru senantiasa menunjukkan sikap semangat yang tinggi dalam mengajar, upaya guru menunjukkan etos kerja yang baik dalam mengajar, dan upaya menjunjung tinggi kode etik guru.

Kompetensi Sosial. Pengembangan nilai-nilai karakter melalui kompetensi sosial dilihat dari upaya guru untuk: meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dalam pendidikan karakter dengan teman sejawat, mengkomunikasikan peningkatan karakter positif anak kepada orang tua secara teratur, mengikuti kegiatan yang berkaitan dengan program pendidikan karakter di sekolah, dan melibatkan orang tua siswa dalam membangun karakter positif siswa.

Melalui empat kompetensi di atas, seorang guru diharapkan dapat mengembangkan nilai-nilai karakter bangsa, baik nilai religius, kejujuran, disiplin, peduli lingkungan ataupun nilai karakter lainnya.


Penutup dan Simpul Terbuka

Karakter pendidik selalu linear dengan pendidikan karakter. Keberhasilan pendidikan karakter di sekolah sangat ditenttukan oleh kemampuan guru mengembangkan nilai-nilai karakter berdasarkan kompetensinya (pedagogik, professional, kepribadian, sosial).

Fakta bahwa masih banyak ditemukan siswa yang berperilaku tidak disiplin, suka berkelahi, tidak toleran, tidak hormat terhadap orang tua dan guru ataupun sering lalai terhadap tugas yang diberikan bukanlah pertama-tama karena kegagalan seorang guru, apalagi guru-guru agama. Ada banyak faktor yang menyebabkan kegagalan pendidikan karakter.

Sebagai pendidik profesional, seorang guru memiliki tugas utama, yakni mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi para peserta didik. (UU RI No 14 Tahun 2005). 

Sebagai figur sentral dalam pendidikan dan sosok yang paling penting dalam pengembangan pendidikan karakter di sekolah, seorang guru perlu melatih dan membentuk karakter siswa melalui pengulangan-pengulangan sehingga terjadi internalisasi karakter, misalnya mengajak siswanya melakukan doa sebelum belajar secara konsisten.

Dengan ditegaskannya sebagai pekerjaan professional, dari seorang guru secara otomatis dituntut adanya prinsip profesionalitas yang ia dijunjung tinggi dan praktikan dengan baik. Karakter menjadi hal penting dalam kehidupan seseorang, guru, karena karakter menjadi salah satu penentu kesuksesan seseorang. Oleh karena itu, karakter yang kuat dan positif perlu dibentuk dengan baik.

Dunia selalu berubah dan cara berada kita turut berubah didalamnya: pola pikir, pola rasa, pola laku. Seorang guru pun tak cukup hanya mengajarkan materi pelajaran yang termaktub dalam buku pelajaran yang diwajibkan, tetapi juga mengembangkan kualitas personal peserta didiknya.


Penulis: Lusius Sinurat
PenaSinergi
Media Pendidikan dan Pelatihan (HC Consulting, Training & Coaching, Counseling & Facilitating for Personal Development, Self-Awareness, Leadership, and Communication & Excellent Attitude) dalam rangka pengembangan kualitas SDM Indonesia. Kirimkan tulisan Anda ke [email protected]

Related Posts

Posting Komentar

Follow by Email