Tidak Gampang Mengurus Pendidikan

Tidak Gampang Mengurus Pendidikan
PENASINERGI - Sebagai akademisi, saya sangat mengapresiasi pilihan Presiden Jokowi saat memilih Nadiem Makarim sebagai mendteri pendidikan. Namu, di sisi lain saya juga menantang keseriusan atas komitmen presiden menjadikan Indonesia sebagai negara maju mengingat latar belakang pendidikan dan pengalaman Makarim dalam pengelolaan pendidikan.

Dari jejak rekamnya Makarim bukan ahli dalam bidang pendidikan. Makarim bahkan belum pernah berkecimpung dalam pengelolaan pendidikan. Benar bahwa ia telah berhasil dalam pengembangan bisnis jasa berbasis aplikasi teknologi informasi. Hanya saja, mengurusi pendidikan nasional pasti tidak semudah menghadirkan aplikasi Teknologi.

Hal mendasar dari pendidikan adalah pembentukan karakter dan pembudayaan nilai-nilai humanis dari manusia, atau dalam istilah kerennya "memanusiakan manusia" serta pembudayaan budaya yang membentuk kemanusiaan manusiaan itu sendiri.

Namun demikian, sebagai warga negara yang berbudaya saling menghargai, kita semua, rakyat harus mengapresiasi pilihan Presiden sembari memberi waktu dan kesempatan luas kepada Mendikbud terpilih untuk menunaikan tugas membangun #SDMunggul sebagaimana sigadang-gadang Presiden Jokowi.

Semoga pengalaman memimpin Gojek menjadi bahan pertimbangan untuk membangun bidang pendidikan. Saya berharap kiranya Mendikbud baru melakukan evaluasi secara menyeluruh terhadap budaya administratif bagi pendidik dan tenaga kependikan yang terkadang tidak faktual dan melenceng dari operasional tugas di sekolah. 

Di tingkat pendidikan tinggi, saya juga berharap agar kebijakan jurnal internasional "berbayar" yang mewajibkan dosen dalam urusan administratif tugasnya patut dievaluasi. Aneh rasanya melihat fakta di mana dosen meneliti, mempublikasi hasil penelitiannya di jurnal internasional dengan syarat ia harus membayar mahal. Andai saja hasil penelitian tersebut dimanfaatkan di Indonesia, maka akan jauh lebih baik, efektif dan efisien.

Maksud saya, kebijakan tadi tidak mesti diwajibkankan. Sebaliknya, hasil penelitian para dosen hendaknya diberi pembobotan dan klasifikasi tertentu, tergantung pada pilihan-pilihan dosen atas dasar kemampuannya. Ada variasi kompetensi dosen yang harus dihargai dan karenanya dosen diberi pilihan-pilihan yang sama-sama dihargai, bukan harus publis karya di jurnal internasional dan harus di Scopus, Thomson, dan lainnya.

Dosen berkualitas mestinya tidak diukur dari seberqpa banyak hasil penelitiqnnya di-publish pada jurnal internasional, melainkan seberapa besar kontribusinya dalam membangun masyarakat dan bangsa, entahbitu lewat buku atau pengabdian lainnya. Dosen harus berkontribusi pada publik, tetapi tidak saja pada karya jurnal internasional apalagi berbayar berjuta-juta.Mendikbud baru harus fokus bukan pada administratif atau dokumen-dokumen yang bisa diatur atau dibuat, tapi pada fakta riil dari aktifitas pendidikan secara menyeluruh. 

Juga jika mau menyelesaikan studi pascasarjana dan doktoral yang mengharuskan ada karya ilmiah terpublis di jurnal internasional terindeks macam Scopus, Thomson dan lainnya dan berbayar. Jika tidak bisa, maka orang bersangkutan tidak bisa mengikuti ujian. Persyaratan ini terkesan mempersulit dan tidak begitu jelas urgensinya terkait kualitas lulusan.

Ini harus dievaluasi oldh mendikbud baru dengan konsep milinealnya, membuat sistem yang mempermudah dan mempercepat bukan memperlambat. Dalam dokumen bisa s├ája semua baik adanya, tapi fakta dilapangan tak sesuai denga yang ditulis di dokumen. Harus ada sistem verifikasi faktual dari keseluruhan aktifitas pendidikan yang terdokumentasi agar benar adanya. 

Semoga Bapak Nadiem Makarin mampu membawa bangsa Indonesia lebih baik dan lebih maju dari keadaan sebelumnya.


Penulis: Dionisius Sihombing
Editor: Lusius Sinurat