Memaksimalkan Human Brain untuk Menangkis Indoktrinasi Kaum Sesat

Paul D. MacLean
PENASINERGI - Karena kita manusia, maka kita tak terkejut melihat kenyataan bahwa kawan bisa menjadi lawan, dan sebaliknya lawan bisa menjadi kawan. Saya punya pengalaman unik, ketika orang yang pernah saya ajari ajaran Gereja Katolik justru berbalik mengajari saya tentang sesatnya Gereja Katolik.
Sebut saja namanya Bursok. Demi menjaga privasi teman tadi, saya memberi nama yang bukan nama sebenarnya. Di satu malam di bulan Desember 2018 ia mengirimkan pesan via Messanger ke saya.

"Selamat malam, pak. Saya Bursok. Masih ingat sama saya, pak? Sebelum kuliah, saya adalah salah satu anak binaan bapak di OMK di Paroki X. Andai saja bapak punya waktu 'mendengarkan' (membaca), saya mau cerita perubahan hidupku, pak. Ini sangat penting."

Saya mencoba menerawang masa lalu, dan mulai ingat sedikit tentang si Bursok ini. Saya pun membalas pesannya, "Ya, saya ingat kamu, Bursok. Ada apa ini? Tumben inbox saya."

"Aku telah diubah oleh darah Yesus, pak. Bulan lalu saya mengenal gadis Batak di Jakarta. Dia cantik dan sangat religius. Setiap hari Minggu saya selalu diajaknya ke gereja. Tentu bukan ke Gereja Katolik, karena ia seorang jemaat karismatik yang sangat fanatik. Singkat kata, kami semakin dekat dan berpacaran. Saya semakin menyukai si gadis, juga dengan kelompoknya yang luarbiasa. Secara perlahan saya pun mulai ia libatkan dalam pelayanan di gereja mereka. Sungguh, saya semakin tertarik dengan militansi mereka.
Menurut saya merekalah inilah Kristen sejati, pak. Bagaimana tidak, mereka sangat berani mengungkapkan iman mereka secara fanatik ditengah publik. Bahkan, saat beribadat saya melihat langsung dengan mata kepala sendiri bagaimana mereka diurapi langsung oleh roh kudus. Tahu tidak, pak, mereka itu bisa berbahasa roh. Puncaknya, pada bulan lalu, saya memutuskan untuk bergabung dengan mereka.

Tak sulit untuk bergabung dengan mereka. Tidak pake masa katekumenat segala loh kayak di Katolik. Saya tinggal dibaptis ulang oleh pendetanya di ballroom sebuah hotel. Saya pun dibaptis ulang, karena pendeta kami mengatakan bahwa baptisan Katolik tidak sesuai kitab suci dan otomatis tidak sah. Ia membaptis ulang saya dengan darah Yesus!

Seketika itu saya merasa bahagia bisa menjadi Pengikut Yesus yang sesungguhnya. Dulu saya tidak sebahagia ini, pak. Selama saya menjadi seorang Katolik, tak sekalipun saya merasakan kehadiran Yesus dalam hidup saya, pak. Tetapi setelah bergabung dengan gereja karismatik ini, saya semakin mantap dan semakin percaya bahwa di dalam darahku mengalir darah Yesus, dan di dalam hatiku roh kudus bekerja.

Itu sebabnya, saya merasa harus mengajak pak Lusius menjadi anggota jemaat kami. Sangat disayangkan orang sepintar bapak masih saja mengimani ajaran Katolik yang sesat itu. Kalau bapak mau, saya akan kirimkan kitab suci yang berbeda dengan Kitab Suci Katolik dan beberapa buku yang akan menuntun bapak memilik darah Yesus hingga menjauhi gereja Katolik yang sesat itu .

Hanya di jemaaat kami ini roh kudus berkarya bersama para malaikat Tuhan dalam sukacita surgawi. Itu karena kami menggunakan bahasa roh, pak. Saya telah berbicara dengan roh kudus dan mengutus saya datang ke pak Lusius untuk segera meninggalkan gereja Katolik yang sesat dibawah pimpinan uskup dan pastor yang sesat dan munafik pula.

Hanya itu yang mau saya katakan kepada bapak Lusius. Saya berdoa semoga bapak segera bertobat dan kembali kepada Tuhan yang disalib dan dengan darahnya telah menebus kita dari dosa-dosa kita. Apakah bapak sudah siap dengan tuntunan langsung dari roh kudus?"

Karena curhatnya begitu panjang, maka saya hanya membaca sepintas. Tentu, saya tahu apa intinya. Sebab Bursok bukan orang pertama yang mengirimkan pesan sejenis ke saya. Hanya saya agak shock dan tak habis pikir mengapa Bursok yang dulu sangat fanatik dengan Katolik-nya itu justru sekarang malah menuduh Katolik yang telah membesarkannya sebagai agama sesat.

Tapi tak apa-apa, saya tahu dia korban indoktrinasi. Apalagi saya dengar ia baru di-DO dari kampusnya karena nilainya tak mencukupi, juga karena ia penrah ditolak cewek OMK di gereja kami dulu. Tak lama kemudian saya membalas pesan Bursok,

"Mantap, brother. Hidupmu sungguh lengkap. Engkau sudah dibaptis dengan air suci di Gereja Katolik dan kini dibaptis lagi dengan darah Yesus dan roh kudus di gereja barumu. Proficita ya. Pesan saya, semoga kamu baik-baik di sana. Sekolahnya berjalan lancar, dan nilai-nilaimu semakin membaik. Jangan sampai pelayanan di gereja barumu itu, Indeks Prestasimu anjlok loh.

Satu lagi, tetaplah pake logika, karena kamu mahasiswa. Kalau mandi itu pakai air. Itu sebabnya permandian Katolik itu seturut cara Yohanes Pembaptis, menggunakan materia "air" dan forma "Aku membaptis engkau dalam nama Bapa, Putra dan Roh Kudus"

Jadi, enggak boleh mandi pake darah loh. Sadis tauk! Masak darah dan roh kudus jadi materia baptis? Bukankah Roh Kudus telah membaptis kamu di Gereja Katolik? Tuh baca forma di atas. Kalau begitu, roh kudus kita kayaknya beda deh.

Daripada kamu nunggu-nunggu darah (fisik) Yesus mengalir di darahmu, mending kamu bergabung dengan orang-orang STIFIN deh. Mereka juga percaya darah itu media yang bisa memastikan seperti apa pribadi manusia. Percayalah, sama seperti agama barumu itu, STIFIN juga hanyalah media berbisnis; dan sebagai mahasiswa ekonomi mestinya kamu tahu kalau bisnis itu harus abai pada kebenaran yang sesungguhnya."

Bursok tak mampu lagi menjawab. Sepertinya dia sedang mengumpulkan ide dengan bertanya kepada pendeta-pendetanya yang tak pernah belajar filsafat dan teologi baru. Bagaimana bisa  menjawab, ketika mereka hanya berpikir dengan otak reptilnya? Kebayang gak sih orang bisa ditahbis jadi pendeta hanya karena melihat cahaya silau di tengah hutan?
Memaksimalkan Human Brain untuk Menangkis Indoktrinasi Kaum Sesat
Hitler dengan anti-Semitnya.
Tak jarang orang yang tadinya percaya pada kayakinan yang dianutnya, tiba-tiba ia berbalik 180 derajat dan menyangkal keyakinannya itu hanya karena ia telah menemukan keyakinan baru dari orang yang dicintainya.

Seperti sudah berkali-kali saya tulis, Agama itu tak hanya membuat orang punya pegangan hidup, tetapi serentak juga bisa membuat orang keluar dari batas-batas normal hidup, seperti tiba-tiba radikal dan fanatik. Hal itu bisa terjadi karena seseorang beriman secara infantil, yakni selalu menganggap kebenaran versi kelompoknya adalah satu-satunya acuan kebenaran di dunia ini.

Biasanya, gejala-gejala ini banyak diidap oleh mereka yang baru saja bertobat alias baru mendapat hidayah yang disusul dengan berpindah agama (Islam: mualaf). Pada tahap tertentu, sah-sah saja mereka berbagi pengalaman iman mereka sebagai sebuah peziarahan hidup yang bisa diteladani orang-orang di kelompoknya. Tetapi, sangat tidak wajar ketika mereka justru menjadikan agama baru mereka sebagai alat untuk menyerang dan memusuhi agama lamanya. Itu namanya bukan pezirahan spiritual, tetapi peziarahan banal.

Tak peduli si pentobat baru tadi sarjana S1, S2, S3, atau bahkan ketika ia merupakan salah satu lulusan terbaik di kampusnya dulu, hampir semua "new converters" selalu berbalik arah. Misalnya, apabila sebelumnya dia beragama Katolik, lalu kini menjadi anggota jemaat gereja Karismatik seperti Bursok di atas, maka ia akan menyerang agama Katolik, bahkan berupaya mengajak mereka bergabung dengan kelompoknya. Hal yang sama juga terjadi ketika orang Kristen berpindah agama ke Islam. Ia akan menyerang teman-teman Kristennya sebagi kafir kualat dan segera akan dilaknat.

Mengapa bisa demikian? Toh ada banyak juga orang berpindah agama secara normal. Mereka tetap menjalani hidup seperti biasa dan tak lantas menyebut dirinya paling benar. Faktanya, mereka yang berbalik arah itu kebanyakan barisan sakit hati, atau sedang diliputi banyak masalah.

Rasa frustasinya dituangkan dengan menyalahkan agama lama dan orang-orang di dalamnya dengan cara memanfaatkan ajaran agama barunya sebagai senjata. Akan lebih parah lagi ketika agama barunya itu justru berafiliasi dengan kelompok oposisi Pemerintah. Mereka akan dengan lantang berteriak "Pemerintah kita saat ini sangat sesat, karena tidak menjadikan agama sebagai jawaban atas setiap persoalan masyarakat!"

Kelompok inilah yang selalu mengandalkan logika terbalik: "Pemerintahan sekarang gagal. Itu karena Presiden bekerjasama dengan negara kafir dan sangat intim dengan negara komunis. Hati-hatilah, negara ini telah dijual pemerintah ke negara komunis Cina."

Mereka akan mengulangi terus-menerus fake news ini bercampur amarah yang membabibuta. Maksud supaya para warganet yang membacanya akan mengamini pernyataan mereka sebagai sebuah kebenaran.

Jangan tanya data dan fakta apa yang mereka miliki dibalik pernyataan tersebut. Mereka itu malah anti-data sebagai hasil dari analisa ilmu pengetahuan, juga tak butuh fakta sebagai representasi peristiwa. Itu sebabnya mereka selalu berdebat dengan emosi, hingga menuangkan teh panas ke arah lawan bicaranya.

Ketika mereka tampak bodoh dalam sebuah debat, maka lawan debatnya akan dituduh sebagai heresi (sesat), penghianat, pelacur agama, kafir, dan munafik. Mereka hanya percaya pada satu hal: 'Tuhan telah mengutus kami menjadi satu-satunya kelompok yang berhak mengatakan mana yang benar dan mana yang salah.'

Bursok dalam kisah di atas adalah salah satu contoh nyata betapa logika bisa mati hanya karena ia diindoktrinasi. Hasilnya jelas menguntungkan pihak yang mengindroktinasinya, apalagi ketika Bursok semakin lantang mengulang-ulang kalimat ini: "Akhirnya aku menemukan Tuhan yang sesungguhnya di gereja baruku!"

Memaksimalkan Human Brain untuk Menangkis Indoktrinasi Kaum Sesat
Donald Trump dengan Firehose of Falsehood-nya

Pada tahun 1960, Paul D. MacLean, seorang Neuroscientist (ahli saraf) merumuskan model otak manusia dalam bukunya The Triune Brain in Evolution yang diterbitkan pada tahun 1990. Paul menggambarkan otak manusia dalam tiga struktur berbeda, yang muncul bersamaan dengan jalur evolusi (bdk. Charles Darwin).

Model aktivitas dan pengorganisasian otak ini akan saya jelasan dengan cara sederhana. Paul menyebut hirarki fungsi otak dengan "The Triune" (gabungan dari kata Three in One), yakni: lizard brain (otak kadal/reptil), mammal brain (otak binatang0, dan human brain (otak manusia). Mari kita lihat satu per satu!


1. Lizard Brain (The Primitive Brain / Reptilian Complex)
  • Otak kadal atau otak reptil ini bertanggung jawab atas fungsi bertahan hidup yang paling primer/mendasar, seperti detak jantung, pernapasan, suhu tubuh, dan orientasi dalam ruang. Misalnya, saat Anda berupaya menahan nafas, maka karbon dioksida akan menumpuk di aliran darah Anda, sehingga bagian primitif dari otak Anda akan mengambil alih dan membuat Anda bernapas lagi. Bernafas adalah hidup. Jika Anda terhalang saat bernafas maka kelangsungan hidup Anda sedang terancam. 
  • Ancaman terhadap kelangsungan hidup seperti itu pertama-tama diatasi oleh otak reptil. Otak reptil (the primitive brain / reptilian complex) ini adalah jenis otak yang pertamakali dimiliki oleh manusia purba dalam Teori Evolusi Darwin. Disebut otak primitif karena tak jauh berbeda dengan otak binatang.
  • Dengan otak reptilnya inilah manusia akan bertindak tanpa berpikir. Insting adalah andalan utamanya. Seturut Evolusi Darwin, manusia pada awalnya adalah binatang berbentuk manusia, dan dengan otak reptilnya berupaya survive (bertahan hidup) dengan melakukan  4FFight, Flight, Food, Fuck
  • Dalam situasi ketakutan (fear) manusia akan melawan (Fight), atau melarikan diri (Flight);  sedangkan disaat lapar ia harus mencari makan (Food) dan untuk melampiasan libidonya ia akan menyerang dan menuntut kepuasan seksual (Fuck). Semua insting spontanitas ini dikendalikan oleh otak reptilnya.

2. Mammal Brain (The Limbic System / Paleomammalian Complex)
  • Otak mamalia (binatang menyusui) ini kadang disebut sebagai "otak emosional". Sistem limbik adalah bagian reaktif dari manusia yang memulai respons "bertarung atau lari" saat menghadapi bahaya. 
  • Unsur amygdala, hippothalamus, dan hippocampus turut membentuk evaluasi bawah sadar yang sangat cepat dan sistem respons yang dirancang untuk membuat kita tetap aman.
  • Amygdala adalah sistem peringatan dini (safety first) atau rencana keselamatan sebelum berkonsultasi dengan otak otak manusia (human brain ' The New Cortex). Misalnya, saat Anda berjalan di sebuah lapangan rumput dan tiba-tiba Anda melompat spontan saat mengira ada ular di kaki Anda. Padahal setelah Anda periksa lebih dekat, ternyata hanya selang di atas rumput. Ini adalah respons pertama dari fungsi otak yang sangat penting. 
  • Amygdala melakukan evaluasi yang sangat cepat, meskipun tidak selalu akurat, dan memiliki jalur cepat dari thalamus (informasi yang masuk) hingga ke hippothalamus yang dapat memulai respons stres untuk mencegah malapetaka yang akan datang. 
  • Sementara hippocampus memainkan peran menyandikan peristiwa dalam ruang dan waktu dan mengkonsolidasikannya dari memori jangka pendek ke jangka panjang. Misalnya ketika tubuh tetap dilemparkan ke dalam respons stres padahal tidak ada bahaya yang sebenarnya. 
  • Kita bisa mendeteksi cara kerja ini lewat gerak refleks atau gerakan otomatis yang tidak diperintah oleh otak. Gerak refleks ini diatur oleh otak emosional kita. Lapisan otak ini memang bertugas mengatur gerak refleks dan keseimbangan koordinasi pada tubuh manusia disaat bahaya mengancam dengan tiba-tiba.

3. Human Brain (The New Cortex / Neomammalian Complex)
  • Otak manusia atau otak pintar merupakan bagian eksekutif dari sistem yang bertanggung jawab untuk semua aktivitas sadar tingkat tinggi, seperti bahasa, pemikiran abstrak, imajinasi, dan kreativitas, dst. 
  • Otak pintar ini juga menyimpan banyak ingatan kita: bukan hanya ingatan biografis kita, tetapi juga semua ingatan otomatis yang penting untuk berbicara, menulis, berjalan, bermain piano, dan banyak kegiatan lain yang tidak asing.

Gagasan otak The Triune (tritunggal, three in one) dari Paul D. MacLean (1913–2007) bisa diterapkan dalam menganalisa perilaku orang (dari kelompok tertentu) yang begitu mudah diindoktrinasi dengan nilai-nilai baru hingga ia akan menentang nilai-nilai lama yang dulu dianutnya.

Bursok dan beberapa orang dari kelompok radikal selalu berbalik arah 180 derajat setelah otak reptilnya telah diserang. Sementara Hitler dan Donald Trump dan pemimpin lain yang sama-sama neurosis tahu betul cara menyerang otak reptil dari masing-masing rakyatnya. Trump, misalnya, demi mendapat perhatian dari warga Amerika saat Pilpres tahun 2016 silam, ia mengimplementasikan teori Firehose of Falsehood-nya Hitler hingga berhasil mengalahkan Hillary Clinton. Sama dengan Hitler, Trump juga mengamini bahwa "Kebohongan yang dilakukan secara terus menerus, lama kelamaan akan menjelma menjadi sebuah kebenaran.”

Itu sebabnya Trump menebar berita bohong (fake news) dan sengaja mendesain kebohongan itu demi menciptakan ‘FEAR’ pada masyarakat Amerika. Trump memainkan isu (1) "Islam itu agama teroris", (2) Pengungsi asal Meksiko adalah orang berbahaya", (3) "Tenaga asing akan merebut lapangan kerja di Amerika", dan (4) China sangat membahayakan perekonomian Amerika." Trump mengulangi fake news ini secara berulang-ulang, hingga menciptakan ketakutan (fear) yang luarbiasa bagi orang-orang Amerika.

Trump sadar bahwa lapisan otak reptil warga Amerika adalah gerbang terbaik untuk memengaruhi mereka dengan cara terus-menerus menyerang otak reptil mereka melalui berita bohong. Dengan cara ini, human brain warga Amerika pun tak sempet bekerja.

Kaum radikal juga menggunakan cara yang sama. Mereka mencari pengikut baru dengan cara menyerang otak primitif mereka. Logika mereka dibolak-balik, hingga mereka tak sempet lagi meggunakan logika dengan otak pintarnya. Lalu, setelah "kena", para anggota baru mereka akan digerakkan oleh otak reptil dan otak mamalianya untuk menentang kebenaran yang dianut oleh kelompok lamanya.

Maka tak mengherankan bila kita selalu kesulitan berdiskusi dengan kelompok ini. Ketika kita meluruskan pendapatnya, mereka akan merasa diserang dan naluri spontan FEAR (naluri kebinatangnya) akan berontak: kalau tak melawan, minimal mereka akan mempertahankan diri.

Entah karena otak orang Indonesia jarang dimaksimalkan, maka kelompok sesat begitu mudah mengindoktrinasi orang-orang kita. Tampaknhya masyarakat kita terlalu mengandalkan peran otak reptil dan otak mamlia-nya, dan mengesampingkan otak manusia-nya. Akibatnya, penyebaran berita bohong (fake news) secara berulang-ulang dari kaum sesat dengan mudah menyerang bawah sadar (subconscious mind) mereka dan menjelma menjadi believe system.

Kita harus hati-hati. Sebab, bila bawah sadar kita telah dicuci (brainswashed) dan terkena virus sesat, maka kita akan kebal terhadap data dan fakta, bahkan Anda tak akan bisa berdebat dengan orang cerdas, yakni mereka yang berdebat dengan membawa data dan mengacu pada fakta.

Ingat, fake news bersama dengan pasangan intimnya yang bernama hoax adalah virus yang mematikan demokrasi, sebagaimana pernah dikatakan oleh Scott Pelley (seorang jurnalis Amerika dan news anchor di Televisi CBS News), "I believe the fastest way to destroy democracy is to poison the information".

Demokrasi kita memang sedang terancam, karena polisi selalu berurusan dengan warganet yang doyan menebar hoax dan media mainstream yang lebih suka berbagai berita bohong (fake news). Tujuan mereka sama, meracuni informasi agar demokrasi kita hancur dan mati.


Penulis: Lusius Sinurat