Berbicara Dari Hati Ke Hati Dengan Anak

Berbicara Dari Hati Ke Hati Dengan Anak PENASINERGI - Kata koran, internet dan televisi Indonesia surga bagi pedofil, narkoba, penjual surga dan agama, kelompok radikal, dan betapa stigma negatif lain.

Faktanya, hanya segelintir orang tua yang menyempatkan diri berbicara dari hati ke hati dengan anak-anaknya, mulai dari tema seksologi, agama, bahkan bahaya narkoba.

Dalam hal pendidikan, mayoritas orangtua, baik di perkotaan dan di pedesaan seringkali hanya berfungsi sebagai kasir yang menyetor uang sekolah dan uang kuliah anak setiap bulannya.

"Inilah enaknya punya anak," kata teman saya yang mantan pastor, "Saya bekerja keras hingga jumpalitan tak sia-sia, karena apa yang kulakukan adalah seluruhnya untuk anakku sendiri."

Waktu masih pastor ia menyukai anak-anak. Setelah memimpin misa, ia selalu menyempatkan diri menyapa anak-anak dan berbicara dengan bahasa anak-anak. Anak-anak menyukainya. Setiap hari minggu, anak-anak bahkan selalu mencarinya. Ia sabar dan bergaul dengan sangat hangat dengan anak-anak.

Bisa jadi karena ia tak punya beban untuk bergaul dengan anak-anak itu. Maksudnya, ia tak harus banting tulang untuk menyekolahkan anak-anak itu, bahkan harus berantem dengan istri yang tak cerdas mendistribusikan kas keluarga.

Kini, setelah punya anak, ia berubah. Anak-anaknya justru takut sama dia. Tak seperti dulu, saat ia masih seorang pastor, kini anaknya bahkan lebih suka ayahnya tak di rumah.

"Abis, papa cerewet banget. Tak boleh inilah, tak boleh itulah," curhat anak sulungnya yang sudah beranjak remaja.

Sang istri, atau dalam bahasa teman saya, "ibunya anak-anak" juga menyadari perubahan itu. Padahal sang istri justru jatuh cinta pada sifat kebapaannya. Bagaimana tidak, setiap hari minggu ia selalu membawa keponakannya ke gereja sebagai alasan untuk sekedar bertemu dengan si pastor.

Begitulah perjumpaan mereka berlangsung satu tahun, hingga si pastor memutuskan tanggal jubah dan tanpa rasa menyesal menikahi sang istri. Tapi memang suaminya telah berubah total. Wajahnya tak lagi cerah seperti dulu. Guratan keletihan tampak jelas di wajahnya. Suaminya terlalu lelah mencari uang.

Seperti dikatakannya, ia bahkan tak punya waktu luang seperti saat ia masih bertugas di paroki di Jawa sana. Kini ia bangun jam 5, mandi dan antar anak ke sekolah jam 6 hingga mulai jualan di pasar hingga dari jam 7 pagi hingga jam 7 malam.

Ia pulang dalam kondisi lelah. Tapi seperti pengakuannya, ia tak menyesal dan ia sangat bangga diberi Tuhan kesehatan hingga bekerja keras demi anak-anaknya. Hanya saja ia lama-lama mulai sadar betapa anak-anaknya begitu berjarak dengannya. Ia bahkan suka salah panggil nama anaknya.

Boro-boro ngobrol dari hati ke hati dan berdiskusi sebagai orang tua dan anak tentang banyak hal, entah tentang jajanan yang sehat di sekolah, teman anak-anaknya di sekolah, bahkan sekedar bertanya kesulitan anaknya saat mengikuti pelajaran.

Akan seperti apa anak saya kelak? Saya ini sangat percaya pada kehendak Tuhan. Aku membawanya dalam doa saja. Toh ibunya sudah saya bebaskan dari pekerjaan untuk fulltime merawat anak-anak kami.

Apa yang terjadi dengan sobat di atas hanyalah salah satu contoh konkrit betapa banyak keluarga-keluarga Indonesia yang begitu fokus pada berbagai ancaman pada anak-anak mereka, tetapi mereka banyak lupa tentang pentingnya kedekatan fisik dan psikologis dengan anak-anak mereka.


Penulis: Lusius Sinurat