Jubileum 175 Tahun CMM di KAM: "Dalam Gerakan Belaskasih"

Jubileum 175 Tahun CMM di KAM: "Dalam Gerakan Belaskasih"
Mgr. Kornelius Sipayung, para imam selebran dan para frater CMM sesaat sebelum Perayaan Ekaristi Jubileum 175 tahun CMM di dunia. (24/8)
PENASINERGI - "Mengabdi dan membawa terang, mengucapkan kata yang menyelamatkan dan mengulurkan tangan yang menolong"menjadi inspirasi dan spirit para Frater-frater CMM dalam perjalanan panggilan mereka merayakan Jubileum 175 tahun CMM.

Sebagaimana kita tahu Frater CMM berkarya di beberapa wilayah pelayanan di Keuskupan Agung Medan. Novisiat II di Pematangsiantar, Komunitas Medan yang berkarya sebagai pendidik di Yayasan Don Bosco dan Rumas Sakit St. Elisabeth Medan, serta Komunitas Balige yang menangani asrama Putera SMP dan SMA St. Don Bosco Balige. 

Tiga komunitas tergabung ini mengadakan perayaan syukur Jubileum 175 tahun Frater CMM di dunia dilaksanakan di Komunitas Balige. Balige menjadi pilihan setelah disepakati dan disesuaikan dengan jadwal kunjungan pastoral Bapak Uskup KAM, Mgr. Korenelius Sipayung, OFMCap.

Ketiga komunitas ini merayakan Jubileum 175 tahun CMM di Balige pada tanggal 23 Agustus 2019 lalu. Mereka mengadakan seminar kepada para pelajar/remaja yang tinggal di asrama Putera SMP dan SMA St. Don Bosco Balige (asuhan Frater CMM) dan di asrama Putri St. Katarina (asuhan suster-suster FCJM). Kurang lebih 150 anak remaja hadir, ditambah pendamping asrama putera dan para Frater Novis II Frater CMM sendiri. 

Seminar menghadirkan Fr. Paskalis Wangga CMM, MPd (magister Novis II CMM/wakil pemimpin redaksi Penasinergi.Com) sebagai narasumber. “Panggilan Kaum Muda Kece dalam Semangat mengabdi dan membawa terang, mengucapkan kata yang menyelamatkan dan mengulurkan tangan yang menolong" adalah tema yang diberikan oleh panitia.

Tema ini sejalan dengan gaung Jubileum 175 tahun Frater CMM, yakni "Semua Karena Belaskasih Allah” dan sub tema: "Kita kenang, kita percaya dan kita rayakan."

Dalam pemaparannya Fr. Paskalis menyapa para pelajar/remaja sebagai kaum muda kece. Paskalis mengajak mereka kaum milenial untuk hidup bersaudara dan berbelaskasih. Kendati tak mudah, mengingat tugas pokok mereka saat ini adalah belajar dan mengembangkan bakat dan talenta yang mereka miliki, namun mereka harus selalu kreatif dan berinovasi sesuai kemampuan atau potensi diri yang mereka miliki. 

"Untuk mencapai cita-cita dan kesusksesan itu, perlu proses yang baik dalam belajar dan ketekunan. Sebab proses belajar tak pernah berakhir (long life of education and never ending process. Sebagai kaum milenial, Anda semua bisa menaklukkan dunia lewat ketekunan belajar, keberanian dan optimisme yang tinggi di era industri 4.0 yang terus-menerus berubah dengan hal-hal baru ini," ajak Paskalis.

Paskalis menekankan agar kum milenial itu tetap percaya diri dan tetap jadi diri sendiri (be your self). 

"Tetap rendah hati dan tidak sombong serta menghargai dan menghormati orang lain (orang tua dan keluarga, bapak ibu guru dan para pendidik, teman-teman dan siapa saja) sebagai rekan bersaudara dan berbelaskasih," tambahnya.

Kegiatan seminar ini berjalan dengan baik dan semua peserta sangat antusias mengikutinya. Di wajah mereka memang terlht Belaskasih Allah seperti yang diharapkan para Frater CMM.

Puncak perayaan syukur Jubileum 175 tahun Kongregasi Frater CMM di Dunia ini diungkapkan lewat Perayaan Ekaristi yang diadakan di komples SMP/SMA Swasta Katolik Bintang Timur Balige pada hari Sabtu tanggal 24 Agustus 2019.

Marching Band SMA Bintang Timur Balige turut memeriahkan acara penyambutan para selebar dan konselebran Misa. Mereka adalah Uskup Agung Mgr. Kornelius Sipayung, OFM Cap sebagai selebran dengan P. Monald Banjarnaho OFM Cap (Parokus St. Yoseph Balige), P. Bonivasius Simanulang OFM Cap (Kapusin Kustodi Sibolga) dan P. John Seran SVD (Paroki Siborong-Borong (eks murid Fr. Theodorus Hera CMM) sebagai konselebran. 

Dalam kotbahnya, Mgr Kornel membawa tema “Kerajaan Allah dalam versi injil Markus (4:26-32).

"Kerajaan Allah itu dibuat berkembang dan hidup oleh Allah sendiri. Kerajaan Allah itu dikisahkan seperti benih yang ditaburkan di tanah. Benih itu kecil dan tumbuh sendiri. Benih itu seperti biji sesawi. Biji sesawi itu kecil, tetapi setelah tumbuh menjadi besar, sehingga burung-burung dapat bersarang di bawahnya. Kerajaan Allah itu mulai dari hal-hal yang kecil. Segala sesuatu termasuk manusia atau kita semua juga diciptakan mulai dari sel yang paling kecil dan dia tumbuh dan berkembang menjadi besar," ajak Bapa Uskup.

"Belaskasih mendorong para Frater CMM berbuat hal-hal yang awalnya kecil. Kongregasi CMM ini dimulai oleh 3 orang frater, lalu berkembang hingga tersebar ke seluruh dunia. Demikian juga kehadiran mereka di Indonesia dimulai dari 5 orang Frater CMM saja. Namun jumlah dan karya mereka terus-menerus berkembang sampai hari ini dan di masa mendatang. Ini semua karena Allah sungguh berkarya dalam semangat Frater CMM," ungkap Mgr. Kornelius dalam homilinya. 

Perayaan Jubilemum 175 Tahun CMM ini tak hanya dihadiri Uskup KAM, para pastor Kapusin atau pastor SVD, tetapi juga para suster SCMM (Kongregasi yang sama-smsa didirikan oleh Mgr. Johanes Swijzen) dari dari Tarutung, para suster KYM (Vinsensian) dari Siantar, para suster KSFL dari Siborong-borong, para suster FCJM Balige, umat paroki St. Yoseph Balige, anak-anak asrama putera St. Don Bosco Balige, siswa-siswi SMP/SMA dan para guru-pegawai sekolah Bintang Timur Balige/BTB, keluarga Belaskasih Tarutung - Balige, Provinsial CMM Fr. Martinus Max Mangundap  CMM dan para Frater CMM yang berkarya di Keuskupan Sibolga. 

Kurang lebih 350 orang yang hadir turut memeriahkan "Belaskasih Allah" lewat kehadiran kongregasi frater-frater CMM di KAM saat itu. Terimakasih. Horas. Mejuah-juah, Njuah-juah, Ya'ahowu.


Penulis: Paskalis Wangga