Speak Up

PenaSinergi - Waktu SMA, tepatnya di SMA Seminari Menengah Christus Sacerdos kami ada program English Day, tepatnya setiap Hari Rabu. Program ini akarab kami namai English Wednesday.

Begitu sulit awalnya. Pasti. Secara teoretis tampaknya tidak sulit. 16 tenses nyaris hafal. Kosakata makin hari makin banyak. Tapi kok sulit banget rasanya mengungkapkan sesuatu dalam bahasa Inggris.

"Hadeuh.. Jangankan bahasa Inggris, bahasa Indonesia awak pun masih marpasir-pasir," kata Pusuk Nainggolan saat kutanya mengapa dia selalu diam. Tak hanya si Pusuk asal Parlilitan, Humbahas itu yang kesulitan. Kebanyakan kami memilih diam daripada harus bicara salah.

Aku bahkan selalu berdiri di barisan terdepan untuk mentertawakan teman yang berbahasa Inggris dengan logat Batak yang kental, apalagi "salah sasaran" pula.

Tentu saja ini semacam pembalasan. Karena teman-teman pun akan mengolok-olokku bila memaksakan diri berbahasa Inggris. Terbata-bata. Kalimat yang keluar dari mulut rasanya seperti rangakaian kata yang kami pelajari saat bayi.

Untung saja segelintir orang, terutama si Pirdot yang doyan bahasa tapi gak suka Matematika itu selalu berani menyapa. "Hi Lusius. What are you doing now? Tell me, please," kata Pirdot lancar. Lagi-lagi, dengan kalimat terbata-bata, "As you looking, I am reading now," jawabku bercampur rasa takut salah gramatika.

Begitulah pada awalnya aku selalu minder soal kemampuan berbahasa, terutama bahasa Inggris. Nilai Bahasa Inggris di Rapor pun rasanya tak sebanding dengan kemampuanku berbahasa Inggris. Nilai 7, 8, 9 selalu terlihat jelas di Rapor; tetapi jangan tanya soal kemampuan berbicara bahasa Inggris.

Sampai suatu ketika, aku didaulat memberi sambutan dalam bahasa Inggris pada sebuah pertemuan internasional di Bandung. Tau apa yang kulakukan? Saya menulis sambutannya dalam bahasa Indonesia, lalu kuterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan aku minta dikoreksi seorang teman Flores yang sudah terbiasa berbahasa Inggris di Filipina sana.

Alhasil, saat menyampaikan sambutanku, orang-orang bule itu membuatku grogi. "Sial," pikirku... "mengapa mata bule-bule ini mengarah padaku?" tanyaku dalam hati. Tapi dengan modal keberanian yang dulu dididik di SMA Seminari aku menghalau rasa takut 'salah' tadi.

Aku pun membacakan lebih dari setengah sambutan tertulis itu, dan selebihnya aku mulai berimprovisasi. Wajahku pun, yang tadi tampak tegang, kini mulai kendur dan tubuh rasanya lebih ringan.

Saat sedang bicara, seorang senior me-ledek-ku dari belakang stand mic tempatku berdiri, "Kamu omong apa sih?" katanya dengan ketus. Aku hanya menjawab bangga, "Tapi bule-bule itu kok ngerti ya?" jawabku ketus sambil cuek.

Tahu mengapa aku enggak peduli ledekan senor tadi? Aku hanya fokus pada ekspresi mimik wajah bule-bule di hadapanku. Seakan terhipnotis dengan tepuk tangan bule-bule dari Belanda, Jerman, Amerika dan Belgia itu, aku malah tak menghiraukan senior yang 'ngenyek' tadi. Buktinya, senior yang ngenyek aku tadi sampai kini enggak bisa bahasa Inggris tuh hahaha....

Kemampuan berbahasa selalu berangkat dari 'perasaan minoritas': "Rasanya cuma aku yang tidak bisa berbahasa Inggris di tempat ini. Mereka pasti bisa semuanya." Sebaliknya ketika aku merasa sebagai "mayoritas", tepatnya sebagai salah satu dari jutaan pengguna bahasa Inggris, maka aku akan tampak lebih percaya diri.Efeknya pun berbeda. 

Ketika merasa minoritas, aku justru takut ditertawain, diolok-olok atau dianggap bodoh hanya karena bahasa Inggris Anda sangat terbatas. Sebaliknya, ketika aku belajar Bahasa Inggris secara terus-menerus, hingga grammar, vocabulary dst semakin dikuasai maka aku akan terbiasa berbahasa Inggris sebagaimana orang-orang bule tadi terbiasa bahasa Inggris.

Enggak usah deh takut kalau kamu dikatain sebagai orang yang "Sok nginggris!" Sebab, biarbagaimana pun bahasa itu tak cukup dipelajari, melainkan harus dipraktekkan. Lewat apa? Ya lewat perbincangan dong..

English Wednesday itu selalu terkesan. Kebiasaan gagap dan grogi saat berbahasa Inggris di jaman SMA dulu selalu mengingatkanku untuk 'tidak pernah takut' belajar bahasa orang/bangsa lain, tak terkecuali bahasa Inggris.

Maka ketika berhadapan dengan orang asing yang juga menjadi mitra bisnisku saat di Semarang, aku tak lagi gagap dan gugup berbicara dengan dia. Bahkan kepada turis-turis Cina dan Jepang aku selalu bertanya, "Can you speak English, Sir?"

Scott Thornbury, ahli bahasa yang diakui secara internasional di bidang English Language Teaching (ELT) pernah mengatakan bahwa, "Begitu pentingnya mempelajari speaking dalam kehidupan sehari-hari. Maka, mau tak mau, orang harus belajar dan menguasai speaking itu.
"Speaking is so much a part of daily life that we take it for granted. The average person produces tens of thousands of words a day, although some people – like auctioneers and politicians – may produce even more than that. So natural and integral is speaking that we forget how we once struggled to achieve this ability – until, that is, we have to learn how to do it all over again in a foreign language", kata Thornbury.
Cara ini pulalah yang kuterapkan ketika belahar bahasa Sunda, Jawa, Nias, Papua, Batak Simalungun, Batak Karo, dan seterusnya. Ya, aku hanya berbicara saja dengan siapa saja yang menggunakan bahasa-bahasa daerah tersebut. 

Banyak orang mengira kalau aku bisa banyak bahasa. Padahal aku hanya mencoba bercakap-cakap (speaking) dengan orang yang berbeda bahasa dengan saya.

Selain karena mengetahui bahasa lain (diluar bahasa ibu, dan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan) merupakan sesuatu yang menyenangkan, juga karena lewat bahasa aku selalu bisa belajar kebudayaan baru. Tepatnya kebudayaan dan habitus orang yang berbasa berbeda denganku.

Di titik inilah, Engglish Wednesday, atau istilah kami di asrama dulu "English Day" itu sangat penting. Penting karena selain membiasakan juga karena dengan bercakap-cakap dalam bahasa Inggris kita sungguh menyadari bahwa kita memang bukan orang Inggris tetapi kita bisa dimengerti oleh orang orang-orang dari Inggris, Australia, Amerika dan orang-orang yang menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa sehari-hari mereka.

Jadi, speak up! Ngomong aja, bro/sist! Perkara benar atau salah, itu belakangan. Setuju? (Lusius)