Pendidikan dan Keterbatasan Cahaya

Pena Sinergi - Frame Pendidikan di Sumatera Utara adalah listrik padam. Artinya, kegelapan adalah gambaran suram pendidikan di Sumut ini.

Bagaimana tidak, ketika pendidikan di Indonesia masih berlangsung suram dan sangat membutuhkan "terang", di Sumatera Utara sendiri "Terang" begitu mahal.
Saat ini listrik menjadi kebutuhan. Entah Anda yang terbiasa tingggal dalam kegelapan malam atau anti ponsel, televisi, internet, bahkan anti-sosial. Mungkin bukan pertama-tama soal terang yang dihasilkan, tetapi dayanya yang menghidupkan "kematian". Dalam istilah anak kekinian, orang boleh lupa membawa dompet tetapi jangan sampai lupa smartphone dan chargernya.
Ketika semua hal telah tereduksi kedalam barang-barang yang membutuhkan listrik yang kita namai barang-barang elektronik, maka semestinya PLN harus menyadari bahwa listrik bukan lagi barang mewah.

Tetapi di Sumut, meminjam istilah Prof. Budiono (dosen Filsafat Pancasila kami di Unpar Bandung), di Indonesia pasien yang sedang dibedah di rumah sakit bisa tiba-tiba mati karena listrik tiba-tiba padam. Demikian juga pekerjaan atau rapat bisa tertunda, surat tak jadi dikirim, berita kematian tak jadi dipublikasi, mahasiswa tak jadi mem-print tugasnya, anak-anak bisa mengerjakan tugas yang oleh gurunya harus dicari di mbah Google, dst... hanya gara-gara listrik padam.
Seorang anak pernah cerita, di sekolahnya yang mewah, AC dan in-focus lebih sering jadi pajangan daripada digunakan, begitu juga dengan laptop yang telah menjadi buku catatatan mereka nyaris tak difungsikan, hanya karena sekolah hanya mengandalkan daya listrik yang dikelola PLN.
Tragisnya, disaat Mendikbud dan Menristekdikti mulai sok hebat dengan ujian online, plus hasil ujian langsung diumumkan sesaat setelah ujian online selesai... eh PLN malah memadamkan listrik. Inilah gambaran pendidikan kita, yang seakan terang di siang hari, tetapi sebetulnya gelap di sepanjang hari. Ini ibarat orang di Asmat Papua membeli kulkas tetapi tak sadar kalau di desanya tak ada listrik.

Semestinya kita harus kembali ke masa sebelum semua mengandalkan listrik, saat di mana Anak-anak belajar malam dibawah terang lampu teplok dengan minyak tanahnya. Efeknya cuma kecil: hidung anak-anak akan tampak hitam di pagi hari. Dan kalau lupa mandi mereka hanya terlihat seperti sepeda motor dengan knalpot di wajahnya. (Lusius)