Memupuk Komitmen Guru

PenaSinergi - Dalam KBBI, kata komitmen [ko·mit·men] (n) berarti "perjanjian (keterikatan) untuk melakukan sesuatu; kontrak. Komitmen guru dengan demikian berarti keterikatan guru untuk melakukan sesuatu dalam mewujudkan visi dan misi sekolah, tempat ia mengajar. Komitmen guru di sini berupa loyalitas guru untuk "tetap bertahan sebagai guru" di suatu sekolah agar dapat memenuhi tujuan dan visi-misi sekolah.

Komitmen guru tersbut justru akan terwujud dalam tugas profesinya sebagai pendidik, pengajar dan pelatih. Dengan mendidik ia meneruskan dan mengembangkan nilai-nilai hidup dan kehidupan; dengan mengajar ia meneruskan dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi; dan dengan melatih ia mengembangkan keterampilan-keterampilan pada siswa.

Agar tugas dan tanggung jawabnya secara maksimal, maka seorang guru harus memiliki keahlian dan keterampilan, ditambah komitmennya pada pengembangan pendidikan. Artinya, ia harus memiliki keterikatan diri terhadap tugas dan kewajibannya sebagai guru sehingga kelak ia mampu melahirkan tanggung jawab dan sikap responsive dan inovatif terhadap pekembangan ilmu pengetahuan dan tekhnologi. Inilah komitmen seorang guru.

Di dalam komitmen itu seorang guru juga mutlak memiliki kemampuan memahami diri dan tugas, kekuatan batin, kekuatan di luar diri dan sikap tanggapnya terhadap perubahan. Dari sinilah lahir komitmen guru seorang guru berjalan penuh keikhlasan.

Guru dan Keterikatan Emosional dengan Sekolah

Komitmen seorang guru tampak dalam diri seorang guru yang memiliki keterikatan emosional terhadap sekolah, identifikasi diri terhadap sekolah, keterikatan rasional terhadap sekolah, keterikatan kebutuhan terhadap sekolah, keterikatan moral terhadap sekolah, dan loyalitas untuk tetap berada di dalam sekolah.

Keenam komitmen guru di atas sangatlah penting dalam penyelenggaraan pendidikan, sebab guru memiliki peran kunci di dalamnya. Boleh saja sekolah atau yayasan memberi pelatihan macam-macam, tetapi jika gurunya tidak mengakomodir maka hal itu tidak akan efektif.

Maka, agar komitmen guru tadi bertumbuh dan menjadi bagian tak terpisahkan dari diri seorang guru dibutuhkan lahan subur. 

Lahan subur yang dimaksud adalah budaya organisasi, kepemimpinan, lingkungan kerja, dan trust/kepercayaan yang diberikan oleh sebuah organisasi untuk mendukung caranya melakukan sesuatu. Keempat poin penting ini akan diuraikan satu per satu.

1. Budaya Organiassi
Budaya organisasi adalah suatu sistem atau tata nilai yang menjadi pedoman bersama oleh seluruh stakeholders sekolah untuk menghadapi permasalahan eksternal mereka dan usaha penyesuaian integrasi ke dalam sekolah tempat guru mengajar, sehingga masing-masing dari mereka memahami nilai-nilai yang ada dan sebagaimana mereka harus bertingkah laku atau berperilaku.

Budaya organisasi ini selanjutnya menjadi ciri dan karakter yang membedakan sekolah tempat ia mengajar dan sekolah lainnya. Perwujudan dari budaya organisasi inila yang kemudian menelurkan inovasi, pengambilan resiko, orientasi pada hasil, orientasi pada penghargaan manusia, orientasi pada team-work, orientasi pada daya saing, orientasi pada akurasi analisis, orientasi apda keadilan, dan orientasi pada toleransi.

2. Kepemimpinan


Kepemimpinan dalam dunia pendidikan berupa tindakan-tindakan pemimpin dalam memengaruhi dan mengarahkan seseorang atau sekelompok orang dengan cara mengenali, mendukung, melatih ataupun mengembangkan, memotivasiatau mengilhami, membina hubungan baik, mengayomi dan memberi umpan balik kepada bawahan agar mau bekerjasama demi mencapai tujuan yang telah ditetapkan oleh sekolah/yayasan tempat ia bekerja.

Adapun perwujudan dari kepemimpinan itu adalah
  1. memengaruhi dan mengarahkan
  2. mendelegasikan tugas dengan jelas
  3. membimbing dan menetapkan serta memperkuat kembali kebijakan sekolaj
  4. membimbing para guru dalam menjalankan visi dan misi sekolah
  5. memberi masukan atuapun nasihat dalam menerapkan kebijakab dan
  6. bekerja secara aktif dalam skala pribadi maupun kelompok

3. Lingkungan Kerja
Yang termasuk lingkungan kerja adalah semua aspek yang ada dil ingkungan kerja, baik fisik maupun non fisik, yang berada di sekitar pekerja, yang memengaruhi mereka dalam menjalankan tugas dan pekerjaannya.

Lingkungan fisik mencakup:
  1. tata letak ruang kerja guru,
  2. mutu udara, penerangan,
  3. sistem teknologi dan informasi,
  4. peralatan, dan
  5. gedung.
Sementara lingkungan non fisik terdiri dari :
  1. Lingkungan non fisik psikologis:kesehatan mental, tingkat stres,depresi, kecemasan dan harga diri;
  2. Lingkungan non fisik Sosial: pola adaptasi antar anggota sekolah, struktur organisasi sekolah dan pola komunikasi antara anggota sekolah
Untuk membangun komitmen sebagai guru yang profesional, guru dituntut berapa hal, antara lain :
  1. Mampu mengembangkan ilmunya mengikuti proses perkembangan jaman: agar anak didiknya dapat menerima apa yang disampaikan oleh guru.
  2. Disiplin dan tertib dalam menjalankan tugasnya: bagaimanapun konsepnya kalau tidak disiplin maka ilmu itu tidak akan sampai kepada siswa.
  3. Bermasyarakat dengan warga utamanya wali murid: wawasan kemasyarakatan perlu dipupuk oeh guru demi mendapatkan metode yang tepat dalam melaksanakan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) dengan siswa Guru dapat membimbing siswa dalam belajar.
  4. Belajar bagi siswa jangan hanya dibatasi dengan mata pelajaran yang ada: namun lebih dari itu hendaknya siswa dapat mengembangkan ilmunya dengan referensi lainnya
  5. Berperilaku sebagaimana layaknya orangtua: guru adalah orang tua kedua, dalam arti guru tempat berlindung, bertanya dan lain-lain.

4. Kepercayaan (Trust)

Trust/kepercayaan adalah harapan positif yang diberikan kepada seseorang/sekelompok orang yang berwenang dengan harapan memberi hasil yang positif pula dari yang diberi wewenang tersebut.

Perwujudan dari trust itu di sekolah adalah kesedian guru untuk mau menerima pemberian tugas, mau menyelesaikan tugas, adanya kekompakan tim, komunikasi yang efektif, adanya pengembangan ide, keadilan, tanggung jawab, dukungan, konsistensi, dan sikap saling menghormati.


Simpulan

Keempat unsur di atas ternyata berpengaruh secara langsung terhadap komitemen guru, seperti perhatian yang terhadap pekerjaannya, banyaknya waktu dan tenaga yang guru keluarkan, dan bekerja sebanyak-banyaknya untuk sekolah tempat ia mengajar. Semoga para guru semakin komit dengan panggilan dan tugas perutusannya sebagai guru. (Lusius Sinurat - Praktisi dan Pengamat Pendidikan)


Bahan Bacaan:
  • Kusnadi, M.Pd, Profesi dan Etika Keguruan. Pekan Baru: Yayasan Pusaka Riau, 2011
  • Mulyasa, Menjadi Guru Profesional. Mencipta­kan Pembelajaran Kreatif dan Menyenangkan. Bandung: Rosdakarya, 2005
  • Kunandar, Guru Profesional. Jakarta: Raja Grafindo Persada ,2010.
  • Prof. Dr. S. Nasution, M.A., Didaktis Asas-asas Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara, 2000
  • Sahertian, Profil Pendidik Profesional. Yogyakarta: Andi Offset, 1994.
PenaSinergi
Media Pendidikan dan Pelatihan (HC Consulting, Training & Coaching, Counseling & Facilitating for Personal Development, Self-Awareness, Leadership, and Communication & Excellent Attitude) dalam rangka pengembangan kualitas SDM Indonesia. Kirimkan tulisan Anda ke [email protected]

Related Posts

Follow by Email