Keluarga, Sarana Berbagi

Keluarga, Sarana Berbagi
PenaSinergi - Keluarga adalah dambaan ekspresi cinta yang lahir dari perpaduan cinta setiap pribadi untuk berbagi satu dengan yang lain. Bisa dikatakan, bahwa keluarga itu jantung hati masyarakat. Biasanya kehidupan keluarga yang harmonis tercermin pada pribadi-pribadi yang hadir, tinggal dan berada di dalamnya.

Setiap pribadi yang mengalami dan menikmati hidup selalu berakar dan bertitik tolak dari keluarga. Orang tua (ayah dan ibu) adalah simbol sebuah keluarga perdana. Mereka menyatakan jalinan relasi cinta hingga membuat keputusan final mengenai cinta mereka dalam perkawinan resmi, baik secara budaya/adat istiadat maupun acara keagamaannya. Dengan sendirinya keputusan cinta itu disaksikan dan diketahui oleh masyarakat sebagai sebuah anggota komunitas baru secara resmi.

Paus Fransiskus mengajak keluarga-keluarga di seluruh dunia untuk memberikan perhatian khusus pada anugerah cinta dan belaskasih Allah yang tak terbatas kepada umat-Nya. Konsili Vatikan ke II dalam ensiklik Lumen Gentium (Terang bagi Bangsa-bangsa) No. 11 menegaskan bahwa Keluarga sebagai ecclesia domestica (gereja kecil). Paus Yohanes Paulus II dalam “Familiaris Consortio” menekankan bahwa di dalam Gereja, keluarga adalah tempat kudus yang menghantar anggotanya kepada kekudusan.

Sebagai ecclesia domestica keluarga harus menjadi tempat kudus. Artinya di dalam rumah tangga terciptalah suasana kehidupan keluarga (ayah, ibu dan anak) yang sangat harmonis, yaitu hidup penuh persaudaraan dan belaskasih satu dengan yang lain, saling menerima dan memberi, saling memaafkan, menerima diri apa adanya (kekurangan dan kelebihannya) serta saling mendukung.

Setiap pribadi didalam keluarga semestinya merasakan kedamaian dan belaskasih hati dalam persaudaraan. Di dalamnya tidak ada diskriminasi, melainkan satu sama lain mampu berbagi apa yang dialami dan dirasakan. Di titik inilah keluarga adalah cinta dan jantung hati untuk berbagi.

Kehadiran kita oleh karenanya melambangkan kehadiran keluarga (family representative, the light of family): “Aku adalah cerminan atau representatif dari keluargaku. Aku baik, dengan sendirinya keluargaku baik. Aku merindukan segala sesuatu yang baik dalam hidup ini. Karena berbuat baik adalah rahmat emas dan cita-cita bagi setiap orang.”

Dalam ilmu sosiologi, manusia adalah mahluk sosial yang saling membutuhkan satu dengan yang lain. Hidup sosial manusia oleh karena itu harus menjadi filosofi dari setiap pribadi yang hidup. Karena hak hidup setiap pribadi itu sangat dihargai sejak ia masih didalam kandungan ibu. Denyut jantung ibu yang sedang mengandung adalah sebuah keluarga mini yang terjadi antara ibu dan anak.

Manusia itu baru dapat hidup dengan wajar apabila berada dan berkembang didalam keluarga. Keluarga merupakan suatu kelompok kekerabatan terkecil di dalam sistem kekarabatan berdasarkan. Keluarga juga merupakan kelompok kehidupan di mana anak sejak kecil memperoleh penghargaan, kasih sayang dan perlindungan.

Kelompok kehidupan pertama dan utama yang memberikan kehangatan bagi anak adalah keluarga. Akhirnya, eksistensi keuarga bisa menjadi tolok ukur penilaian orang lain. Untuk itu keluarga-keluarga harus sungguh-sungguh menyadari, menghayati nilai-nilai keluarga sembari mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari.

Kita tidak harus berada di atas Gunung Tabor seperti diceritakan dalam kitab suci, tetapi mari kita turun dari Gunung Tabor itu untuk berempatik seperti cerita orang samaria yang mura hati. Ada banyak orang di sekitar kita yang butuh bantuan dan uluran tangan kita. Setelah kita turun dari Gunung Tabor ternyata banyak sekali kita melihat kemiskinan yang terjadi di zaman ini, seperti:

“Perbedaan pendapat yang mengarah pada konflik yang besar, cemburu dan irih hati atas perjuangan kesuksesan hidup orang lain, keluarga-keluarga yang tidak harmonis/broken home, terjadinya diskriminasi dan kelas-kelas kehidupan yang kurang sehat, hadirnya aktor-aktor politikus dengan diplomasinya yang hebat-hebat yang menjanjikan memukau hati masyarakat demi kepentingan dirinya, korupsi dan nepotisme yang terus menerus meraja lelah negeri ini, lemahnya citra pemimpin yang tidak meyakinkan masyarakat, munculnya calon-calon pemimpin yang punya ambisius yang meremehkan pemimpin yang ada yang sudah baik menurut masyarakat/kalangan banyak, banyak anak-anak terlantar dan putus sekolah, banyak anak-anak dan orang dewasa yang kecanduan narkoba dan alat-alat modern seperti gadjet sehingga lupa jati dirinya, adanya keamanan negara yang cukup komplit belum juga mempengaruhinya karena masih ada banyak selundupan heroin elias Narkoba dan lain-lain, dan masih banyak lagi contoh-contoh lain dan singkatnya bangsa kita kembali sakit bukan karena penjajahan asing tetapi dijajah oleh diri kita dan bangsa kita sendiri. Kita semua sakit dan telah disakiti, karena kita merasakan apa yang sakit pada orang lain. Kita mau penyakit kita harus cepat sembuh dan hilang dari perbendaharaan dan peredaran hidup kita”.

Latas bagaimana kita bisa mengembalikan atau menghilangkan situasi hidup seperti ini? Kita ditantang untuk berjuang untuk hidup yang lebih baik dan menyerahkan hidup itu pada perlindungan penyelenggaraan Ilahi.

Kenyataannya masih banyak keluarga yang sungguh harmonis. Masih banyak orang-orang yang berhati baik dan mulia dan secara khusus memberi ‘hati’-nya pada perkembangan keluarga.

Ada banyak contoh pemimpin agama dan negara yang baik serta peduli manusia. Ada banyak relawan-relawan yang mendukung pemimpin yang baik bagi bangsa ini dan relawan-relawan kemanusiaan yang handal dengan penuh kasih.Ada banyak jemaat-jemaat/umat dari agama apapun dia masih punya hati dan kerinduannya ke tempat ibadat menimbah kekuatan rohani dari Allah serta mohon berkat-Nya.

Ada banyak rohaniwan-rohaniwati agama apapun dia yang menyuarakan nilai-nilai kebenaran dan memberikan teladan hidupnya yang baik dan soleh, dan lain sebagainya. Mereka-mereka/orang-orang seperti ini karena hidupnya lahir dan terbentuk dalam sebuah lingkungan keluarga yang baik.

Keluarga mereka ini biasanya dilandasi oleh kasih sayang dan persaudaraan, kelemah-lembutan, menunjukkan contoh keteladanan dan ketegasan yang mendidik penuh kasih dari orang tua. Suasana dan pola hidup kelurga inilah yang merupakan hal yang sangat penting bagi setiap anggota keluarga, supaya tetap dan terus menerus mengembangkan tingkah laku sosial yang baik.

Pengalaman-pengalaman baik yang dialami dan dirasakan oleh anggota kelurga inilah yang melahirkan seseorang/pribadi yang dapat melakukan hal-hal yang baik atau peduli akan kehidupan orang lain. Maka kalau kita bertanya orang-orang tersebut, pasti dia akan menjawab “keluarga adalah cintaku dan jantung hatiku untuk berbagi”.

Untuk kita sebagai warga negara apa yang harus kita lakukan? Kita harus menjadi keluarga yang tekun, ulet, semangat yang postif dan hidupnya sejahtera. Apa aplikasinya atau yang dapat kita lakukan? Setiap orang atau pribadi kita hendaknya dengan hati terbuka harus sungguh mengikuti dan menghayati keluarga berdasarkan ajaran iman kita masing-masing.

Lebih dari itu kita harus memaknainya dengan cinta dan persaudaraan berbelaskasih dalam kehidupan sehari-hari yang berawal dari dalam keluarga dan dari diri kita masing-masing. Tidak perlu tunggu orang lain untuk melakukan yang baik. Bukan agama dan negaraku yang berbuat terhadap aku, tetapi akulah yang berbuat untuk agama dan negaraku demi kebahagiaan sesamaku/keluargaku/agamaku/negaraku.

Saya mengajak kita semua …, mari kita kembali berbenah diri dalam diri kita, di keluarga kita, komunitas kita, lingkungan masyarakat kita, kantor tempat kita bekerja, dan lain-lain. Dari keluargalah, baru kita berbagi dengan orang-orang di luar komunitas/keluarga kita. Kita mohon kepada Tuhan agar Ia menggerakkan hati kita sebagai aktor-aktor perubahan dunia ini untuk mewartakan cinta kasih dan hidup dalam persaudaraan berbelas kasih satu dengan yang lain sebagai teman dan sahabat. (Paskalis)