Berani Berubah, Berani Berbuah

Berani Berubah, Berani Berbuah
Pena Sinergi - John Dewey mengatakan “Education is not a preparation of life, but it’s life itself”. Pendidikan adalah Kehidupan. Memberi makna bahwa kegiatan pendidikan harusnya membuahkan hasil yang lebih baik bagi kehidupan seseorang dan masyarakat.

Prof. Thomas Lickona (Bapak Pendidikan Karakter Dunia) menandaskan bahwa tujuan dilaksanakannya pendidikan adalah “Membantu orang untuk menjadi pintar (smart) dan sekaligus juga untuk menjadi baik (good)”.

Kegiatan pendidikan menjadi upaya pemanusiaan manusia, agar kelak menjadi pribadi yang bermanfaat dan bernilai guna bagi dirinya, bagi keluarga, bagi masyarakat dan bagi gereja.

Di lembaga pendidikan disemaikan nilai-nilai kebaikan yang untuk membaikkan, ilmu pengetahuan yang untuk mencerdaskan atau menerampilkan insan pendidikan. Dengan jaminan semakin cerdas dan baiknya insan pendidikan memberi dampak positif bagi kehidupan di sekitarnya.

Mata publik tertuju sekarang ini kepada “situasi buruk” kehidupan masyarakat yang ditandai tingginya tingkat korupsi pejabat, kasus-kasus pemerkosaan dan pelecehan seksual, tawuran, rendahnya indeks pembangunan manusia Indonesia, pembiaran pada tindakan-tindakan yang menyimpang dari ajaran norma, budaya dan agama.

Publik seolah apatis dan memandang tujuan untuk pencerdasan dan pembaikan dari kegiatan pendidikan yang digelar tidak akan dapat dipenuhi dan itu hanya sebatas konsep indah yang negatif implikasi.

Seolah lembaga pendidikan diperhadapkan pada situasi sulit di mana berkeinginan untuk memajukan kehidupan, akan tetapi tidak berdaya karena tidak ada orang-orang berani, kuat, dan nekad untuk berada digaris depan mengawali tindakan dalam rangka memajukan kehidupan itu.
Tidak ada yang tahu cara bagaimana harus bertindak, dan seolah tidak tahu siapa yang harus memulai cita-cita itu, apalagi harus menjadi pengawal. Seolah pendidik hanya bertugas memberikan informasi ilmu pengetahuan kepada insan pebelajar dan tidak punya tanggung jawab untuk memastikan apakah ilmu pengetahuan yang disampaikan tersampaikan dengan baik, diserap, dipahami, dan bermanfaatkah bagi insan pebelajar.
Revolusi Mental yang digemakan Jokowi Sang Presiden diawal pencalonannya sebagai Presiden menjadi sebuah penandasan untuk membenarkan atau menguatkan bahwa manusia di bumi Indonesia sekarang ini sedang “sakit”, setidaknya sakit mental yang terlihat dari sikap dan perilaku yang ditampilkan dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara sekarang ini, dan itu tergambar semakin miskin nya niat dan kemauan dari para pejabat dan pengambil kebijakan penting di negeri ini untuk memberi pelayanan yang baik demi upaya mewujudkan pembangunan diberbagai bidang.

Bukankah para pejabat dan pengambil kebijakan penting diberbagai bidang di negeri ini dilahirkan di lembaga pendidikan. Mereka dididik dan diberi pembekalan nilai juga dilembaga pendidikan? Bukankah lulusan-lulusan dari lembaga pendidikan adalah generasi dan pewaris kehidupan di masa depan?

Jawabannya adalah Ya, oleh karena itulah upaya revolusi mental seperti digemakan Jokowi menjadi Pekerjaan Pokok dunia pendidikan dan tidak terlepas dengan bidang lain.
Perubahan sangat diinginkan terjadi dalam pengelolaan tugas pendidikan itu, tugas persekolahan kita, cara dan strategi pembelajaran, serta program-program pendidikan mengarah kepada pemantapan kualitas ilmu pengetahuan dan kualitas personalitas.
Perubahan itu harus dilakukan secara keras, kencang, dan penuh resiko dengan merombak atau membongkar kebiasaan atau cara-cara lama yang tidak konstruktif, zona aman, dan penolakan akan kritik, serta meninggalkan perasaan-perasaan takut untuk mengawali perubahan dan perbaikan diri karena takut diancam, disingkirkan, dan tak dapat perhatian, melainkan berani untuk menanggung resiko pahit dan berbeda dari orang banyak, karena pilihan untuk berprinsip, berkomitmen dan berkesungguhan membumikan kebenaran dan karakter mulia sesuai dengan teladan iman yang dianut.

Berani berbeda, berarti berkendak untuk tidak bersekutu dengan orang banyak dilingkungan persekolahan yang memilih tidak perduli, masa bodoh, cuek, zona aman, munafik, dan berbohong. Pilihan untuk demikian pasti tidak enak dan amat menyakitkan karena manusia yang berada dipihak itu tidak banyak.

Bukankah pilihan yang berbeda juga dilakonkan oleh Yesus Sendiri, dia siap berkorban untuk kepentingan orang banyak. Maka kepentingan keberanian itu bukan diri kita tetapi kepentingan umum (orang banyak).
Penyelenggara pendidikan ada dipihak Negara dan swasta. Keduanya penyelenggara pendidikan ini terlihat kompak untuk memuluskan ketidak baikan dalam dunia pendidikan kita saat ini. Negara telah mewarnai swasta untuk koalisi menciptakan keadaan kehidupan yang kita saksikan sekarang ini. Tak ada pembeda dalam pendidikan, dan tak tercipta lagi kompetisi yang sehat dalam pengelolaan pendidikan.
Mestinya pihak swasta lebih berani dan mantap dalam pelaksanaan tugas pendidikan untuk menjamin kualitas dan karakter insani. Seolah swasta saat ini telah tercebur dan tercemar kepada kebijakan Negara dan kompromi setelah mendapat fasilitas-fasilitas Negara dipihak swasta.

Kini saatnya saya harus menyerukan BERANI BERUBAH, BERANI BERBEDA dan BERANI BERBUAH. Sekolah swasta harus menjadi pembeda dari penyelenggaraan pendidikan oleh Negara. Dan dalam hal ini tercipta suasana berbeda dan persaingan-persaingan yang konstruktif. Semoga. (Dion/Lusius)
PenaSinergi
Media Pendidikan dan Pelatihan (HC Consulting, Training & Coaching, Counseling & Facilitating for Personal Development, Self-Awareness, Leadership, and Communication & Excellent Attitude) dalam rangka pengembangan kualitas SDM Indonesia. Kirimkan tulisan Anda ke [email protected]

Related Posts

Follow by Email