Guru dan Ruang Kelas

 Guru dan Ruang Kelas
Tidak semua orang mampu mengajar. Apa karena mengajar itu sulit? Atau, karena mengajar itu mengandaikan adanya keberanian? Atau, dalam catatan orang Medan, "Memangya sudah hebat kali rupanya jadi guru itu? Macam kau samakan guru itu dengan malaikat, fuang?"

Benar, bahwa tugas mengajar biasanya diemban oleh guru. Tapi bukan sembarang guru. Guru yang dimaksud di sini adalah guru yang memiliki karakter, kualitas, kesediaan dan ketulusan dalam melayani masyarakat, terutama anak-anak didik yang dipercayakan padanya.

Artinya, seorang pengajar harus mendasari pekerjaannya dengan cinta kasih dan hasrat untuk memberi diri bagi yang lain. Hanya dengan cara inilah guru akan mampu memotivasi anak didiknya dan mengiringi pertumbuhan mereka menjadi pribadi yang utuh (kompeten) hingga berguna bagi diri, masyarakat, bangsa dan negaranya.

Guru dan Ruang Kelas

Di ruang kelas, seorang guru mengambil peran kunci dan menjadi penentu sepanjang aktivitas pembelajaran berlangsung. Di sana ia menyampaikan ilmu pengetahuan, memboboti nilai-nilai (karakter), melatih keterampilan anak didiknya sembari mengendalikan suasana kelas.

Dengan kompetensi yang dimilikinya, baik kognitif maupun pedagogik, seorang guru serta mereta akan berhasil mengajar anak didiknya menjadi pribadi yang kompeten pula.

Di titik ini, kompetensi tidak terletak pada metodologi atau ideologi yang dianutnya, melainkan terutama pada keterkaitan antara pribadi dan identitasnya sebagai seorang guru yang digugu dan ditiru, entah dalam tindakannya, entah dalam sikapnya (Jane Danielewicz dalam Forres W. Parkey & Beverly Hardcastle Stanford, 2008), .

Porfesi seorang guru bukanlah pertama-tama hanya mengajar dalam arti monologis. Ia harus berusaha secara kreatif, mereformasi tiap mata pelajaran, yang ia ajarkan, juga mengolah pengalaman anak didiknya.

Kreativitas seorang guru tampil bak seorang arsitek yang mendesain, “membaca” dan mengajar dengan baik. Ini semua bisa terwujud bila ia sungguh mengenal anak didiknya dengan baik pula.

Akhirnya, tugas mengajar bukan pertama-tama ditujukan hanya kepada anak didik yang pintar sembari mengesampingkan anak yang bodoh, melainkan memberikan diri secara total untuk mengajar semua anak didik hingga mereka bertumbuh hingga memiliki kompetensi melebihi dirinya.

Kecintaan dan penghargaan pada tugasnya sebagai pengajar adalah modal utama bagi seorang guru yang ingin tampil maksimal di setiap waktu dalam pelayannya. di titik inilah pendekatan metodik dalam mengajra perlu dimiliki seorang guru.

Makanya tidak meudah mudah menjadi seorang pengajar, apalagi menjadi guru yang baik dan ideal bagi anak didirknya, bukan? (Lusius)
PenaSinergi
Media Pendidikan dan Pelatihan (HC Consulting, Training & Coaching, Counseling & Facilitating for Personal Development, Self-Awareness, Leadership, and Communication & Excellent Attitude) dalam rangka pengembangan kualitas SDM Indonesia. Kirimkan tulisan Anda ke [email protected].com

Related Posts

Follow by Email