Menulis, Membentangkan Kejujuran

Menulis, Membentangkan Kejujuran
Illustrasi: Kutipan oleh Lusius Sinurat
"Jangan kaupaksakan mereka bisa membuat tulisan. Beneran, Pak. Jangankan menulis, bapak tanya mereka tentang S-P-O seperti yang kita pelajari saat SD saja pun sudah tak tau mereka itu," kata Tamba kepada John salah satu narasumber yang membawakan tema jurnalistik dengan spesifikasi penulisan PTK (Penelitian Tindakan Kelas) dalam sebuah workshop para guru-guru PNS di Kota Pematangsiantar.

"Masa sih? Masa iya bener kalau guru-guru SD, SMP, SMA enggak bisa membuat karya ilmiah? Mana PNS lagi, pak. Enggaklah. Aku enggak percaya mereka enggak bisa," jawab John spontan.

"Bah. Macam mana pula bapak satu ini. Kalau bapak tak percaya, nantilah bapak lihat pas bapak mengajar di kelas. Mar-amangoi amang (puyeng 7 keliling)-lah nanti bapak. Lihatlah," Tamba pun berusaha meyakinkan John, tapi sepertinya ia kehilangan kalimat demi kalimat untuk menerangkan isi otaknya.

"Oh ya? Oke lah pak. Saya akan lihat sendiri nanti. Tapi, maaf, menurutku sih, mereka hanya kurang latihan saja, atau mereka sangat jarang diutus mengikuti kursus-kursus bertema jurnalistik. Jadi belum tentu tidak bisa," John berusaha pada positive thinking-nya.

"Hahaha.... Saya tahu lapangan. Saya tahu betul kalau mereka yang hadir sekarang ini bahkan sudah ada yang ikut 3 sampe 5 kali ikut pelatihan jurnalistik, termasuk untuk penulisan PTK seperti yang bapak akan ajarkan nanti. Pertanyaannya, apa yang telah mereka hasilkan? Mereka tetap tak bisa menulis PTK-nya sendiri. Mereka bahkan kembali pada kebiasaan lama mereka," tambah Tamba seraya terbahak.

"Ntar...ntar dulu. Saya malah semakin bingung nih. Apa yang bapak maksud dengan "kebiasaan lama" mereka? Please bapak jelasin ke saya," John malah bingung hingga bertanya balik.

"Makanya bapak jangan membawa-bawa kebiasaan dari Jawa sana. Bapak kan lulusan Jawa. Di Jawa sana, dosen-dosennya masih punya mental mengajar dan mendidik; kalau di sini dosen masih pake sistem feoldalisme. Bagaimana tidak, sistem rekrutmen dosen dan mahasiswanya saja di Jawa dan Sumut ini sangat beda. Ya, bapa taulah yang saya maksud.

Ya, di Sumut ini sistem transaksional masih sangat mendominasi. Itu terjadi di semua lini: ya di lembaga negara, ya di lembaga swasta, ya di lembaga agama.

Tapi, sudahlah... mari kita kembali ke kemampuan menulis para guru tadi. Saya sengaja mengatakan hal ini sebelum bapak masuk kelas, supaya bapak jangan terkejut dengan kualitas para guru kita." jelas tamba berpanjang lebar.

"Oke pak. Terimakasih infonya. Saya akan lihat secara langsung begitu saya mengajar di kelas mereka nanti," kata John menutup pembicaraan.

*****

Singkat kata, John pun masuk kelas dimaksud dan mulai mengajar. Ia memulai dengan menjelaskan dasar-dasar jurnalistik berikut contoh-contoh konkritnya. Ia menggunakan bahasa yang sangat sederhana agar mudah dimengerti para guru itu; juga dengan metode pengajaran yang sistematik dan bahasa sederhana tadi, karena memang begitu ia diminta oleh pimpinan mereka.

Tiga jam berlalu, dan selama 3 jam itu ia selalu berupaya mengupayakan berbagai cara taktis dan efektif agar guru-guru tadi tertarik menulis, mulai dengan berbagai visualisasi, tanya-jawab hingga diskusi. Ini penting, agar tujuan yang diminta pimpinan mereka adalah agar para guru itu bisa membuat PTK (Penelitian Tindakan Kelas) demi kenaikan golongan mereka sebagai PNS.

Hanya saja, selama mengajar, di kepalangan tetap terngiang ucapan 'pesimis' Pak Tamba tadi: "Guru-guru di Sumut ini tak terbiasa menulis". Hal ini terlihat nyata saat ia menampilkan di slide beberapa contoh blog rekan-rekan guru dari Jawa dan daerah lain, mereka justru merasa asing dengan istilah blog.

Begitu juga ketika John menjelaskan trik dan teknik penulisan cepat sebuah karya ilmiah, mereka selalu menyeringai dan sesekali protes, "Pelan-pelanlah pak. Kami sudah lupa semua pelajaran Bahasa Indonesia saat SMA. Belum lagi waktu kuliah, skripsi kami saja kami 'tempa' sama ahli pembuat skripsi dan tesis."

Mendengar pernyataan spontan itu, tiba-tiba saja John berhenti. Terbersit kesedihan di wajahnya. Bahkan ekspresinya terlihat ingin marah. Tetapi serentak ia sadar dengan peserta yang dihadapi, dan tentu ingat ucapan Pak Tamba tadi.

Namun kali ini ia tak mau kalah dengan keputusasaan guru-guru itu. Dia sadar tak ada gunanya marah, apalagi menyalahkan mereka atau orang-orang yang pernah mendidik mereka. Benar saja. Dengan sangat sabar John berupaya mengajari para guru itu. Satu per satu ia ajari sambil menanggapi pertanyaan mereka. Tetapi toh ketidakpahaman tetap tampil jelas di wajah mereka.

Hingga di akhir sesi John menampilkan di slide sebuah surat berisi sebuah pesan dari Mr. J. Mereka pun diminta membacanya secara perlahan dan sembari merenungkannya:

"Sebagai seorang guru, aku tak mungkin terlepas dengan 'penulisan ilmiah', sebab hampir setiap hari aku selalu bergaul dengan buku cetak - yang tak lain adalah karya ilmiah yang ditulis/disusun orang lain (ahlinya).

Disamping itu, sebagai seorang guru, aku juga harus menjadi contoh bagi anak-anak didikku, terutama dalam hal kejujuran. Maka, setelah pelatihan ini, aku akan membangung kesadaran baru, yakni "Ketika aku sangat marah melihat anak-anak didikku menyontek, maka itu berarti aku sedang memarahi diriku sendiri.

Tentu, karena aku sendiri pun lulus dengan skripsi yang tak pernah kukerjakan atau Tesis yang kujiplak dari tulisan orang lain; bahkan saat pertama kali naik jabatan, PTK yang aku kirimkan ke tim seleksi di BKD pun adalah PTK yang aku beli dari orang yang memang 'spesialis membuat karya ilmiah'.

Tapi kini, sebagai seorang guru, pada akhirnya aku sadar bahwa ketika aku menulis sesuatu, terutama menulis sebuah karya ilmiah, maka itu berarti aku sedang menuangkan isi pikiranku secara jujur. Bukan sebaliknya malah membagikan karya orang lain dan mengklaimnya sebagai karyaku, termasuk ketika karya ilmiah itu telah kubeli."

Setelah membaca surat di atas, ruangan pun mendadak hening, dan tiba-tiba saja John meninggalkan ruangan tanpa pamit. (LS)