Siswa-siswi SMA Katolik Sibolga Andalkan Kejujuran Mengerjakan Soal-soal UNAS

Siswa-siswi SMA Katolik Sibolga sedang berdoa sebelum memulai Ujian 
PENA SINERGI - Sibolga - Baru saja UNAS atau UN atau UNBK usai. Bagi siswa-siswi kelas XII SMA/SMK ini adalah lonceng berakhirnya satu tahap kehidupan mereka. Kegembiraan itu menyelimuti mereka dan mereka ungkapkan dengan cara mereka sendiri.

Ada siswa-siswi yang meluapkan kegembiraannya dengan cara mencorat-coret seragam putih abu-abu mereka. Tak hanya itu, ada juga dari anatara remaja itu yang dengan sengaja ugal-ugalan tanpa menghiraukan rambu-rambu lalulintas di jalanan.

Tapi tidak dengan 160 siswa-siswi kelas XII SMA Katolik Sibolga. Mereka justru mengungkapkan kegembiraan mereka lewat syukur kepada Tuhan atas cintaNya yang telah memberikan kekuatan dan semangat, serta berkat-Nya kepada kami mengikuti UN selama 3 (tiga ) hari. Ekspresi kebahagiaan jelas terlihat dalam diri siswa/siswi kelas XII SMA Katolik begitu UNAS berakhir.

Siswa/siswi kelas XII mendapat pengarahan khusus dari Bapak/Ibu guru dan Ketua Yayasan Santa Maria Berbelaskasih Sibolga, Fr. Paskalis Wangga, CMM. M.Pd sebelum mereka pulang ke rumahnya masing-masing.

Dalam pengarahan sebagai Ketua Yayasan mengucapkan terima kasih kepada siswa/siswi atas partisipasinya mau sekolah di SMA Katolik Sibolga.

"Sampaikan juga salam dan terima kasih kepada orang tuamu yang telah rela menyekolahkan kalian di sekolah yang kita cintai ini. Harapan kami agar bibit-bibit yang telah dibentuk dan dibangun selama tiga tahu ini sungguh-sungguh memberikan teladan dan sikap baik di mana pun kalian berada," ungkap Paskalis, alumni psikologi pendidikan Unimed tersebut bersemangat.

"Sebagai siswa/siswi segala sesuatu yang kalian lakukan sebagai pelajar, bukan karena usaha siswi/siswi semata-mata tetapi berkat kerjasama yang baik yang digerakkan oleh semangat belaskasih yang dapat diaplikasikan dalam dunia pendidikan, teristimewa berkat Tuhan sendiri untuk Kalian.

Kalian toh punya pengalaman baik 3 tahun di SMA Katolik Sibolga, dan itu adalah modal untuk meraih cita-cita kalian. Maka bawalah itu untuk masa depan kalian bersama dengan semangat mudamu yang riang gembira", tambah Paskalis.

Berbagai kesan terungkap dari beberapa siswa yang sempat ditemui Pena Sinergi. William Tanrianus, siswa kelas XII IPA SMA Katolik Sibolga, misalnya. Setelah lulus SMA ia kuliah dan menjadi pengusa mengikuti jejak ayahnya. Dalam melaksanakan UNAS tiga hari berlangsung, remaja kelahiran Sibolga 29 September 1998 ini merasa tenang dan percaya diri mengikuti UNAS

"Aku sih optimis sukses/lulus UNAS. Aku yakin bisa melanjutkan studi ke Perguruan Tinggi. Untuk itu aku sangat bersyukur atas cinta Tuhan kepadaku dari awal hingga akhir UNAS berlangsung," tandasnya.

Senada dengan William, Fransiska Vanny Guitara Marbun yang bercita-cita ingin menjadi guru mengungkapkan rasa bangganya dengan bapak/ibu guru yang telah mendampingi dia dan kawan-kawannya hingga sepanjang 3 hari UNAS mereka bisa kerjakan dengan lancar.

"Aku PD aja saat mengerjakan soal-soal UNAS selama 3 hari ini. Bagiku mengerjakan UNAS dengan jujur tanpa ada bantuan dari teman-teman maupun pengawas ujian tak lain adalah bentuk ungkapan syukurku kepada Tuhan atas cintaNya," tegas gadis kelahiran Sibolga 3 Juli 1998 ini.

Dalam pantauan Pena Sinergi, UNAS yang diikuti oleh 160 siswa/siswi SMA Katolik Sibolga pada tahun ini berlangsung dengan baik.

Menarik bahwa kebiasaan untuk mencoret-coret baju seragam setelah UNAS seperti SMA-SMA lainnya justru mereka hindari. Hal ini tak terlepas dari penanaman nilai-nilai pendidikan Karakter, kepribadian, sosial dan religius dari pihak sekolah selama 3 tahun mereka dididik di sana. Mereka juga menolak dengan tegas melakukan perbuatan yang bersifat anarkis, demonstrasi negatif yang mengganggu kenyamanan masyarakat.

Tanpa dikomando, anak-anak remaja belia ini justru berniat menyumbangkan seragam mereka kepada adik-adik kelas mereka yang berasal dari keluarga kurang mampu. Tampaknya siswa-siswi ini sungguh merasakan makna "saling berbagi" yang diajarkan kepada mereka, melalui semangat St. Vinsensius a Paulo yang hidupnya peduli dengan orang-orang kecil dan miskin di Eropa.

St. Vinsensius a Paulo yang dimaksud ialah seorang tokoh gereja dan tokoh dunia yang memusatkan pelayanannya untuk membantu orang miskin. St. Vincensius sendiri adalah pelindung Yayasan Berbelaskasih Sibolga.

Akhirnya, siswa-siswi kelas XII SMA Katolik Sibolga sungguh merasakan betapa pentingnya sikap hidup kita yang mereka wujudkann, yaitu kejujuran; dan sikap jujur ini adalah modalitas terpenting dalam pembangunan sebuah bangsa. (Paskalis/Lusius)