Nikahi Aku

Lazim terjadi ketika wanita Indonesia ditanya kapan menikah lantas menjawab “belum ada lelaki yang mau menikahiku.”

Kultur kita memang sangat lelaki sentral, alias sangat patrinialis. Maka sehebat apa pun seorang wanita, maka ia tak pernah menikahi pria. Kultur Timur sangat saklek mengatakan bahwa wanita hanya berhak “dinikahi” dan tak punya hak untuk “menikahi” pria yang ia cintai.

Memang selalu ada pengecualian seperti adat Minangkabau, yang menganut paham matrilineal. Tapi itu juga hanya simbolik belaka.

Entah karena kelamin wanita berbentuk lobang yang hanya mampu menampung, dan pria bak panah yang selalu menyerang, paham perkawinan dalam kultur kebanyakan sangatlah menomorduakan wanita.

Kultur perkawinan model ini tentu saja memiliki konsekuensi:
  1. Hanya pria yang boleh menikahi wanita, dan bukan sebaliknya.
  2. Maka seluruh biaya prosesi perkawinan pun ditanggung para pria; dan dalam konteks masa kini, kendati (pihak) wanita lebih banyak uang dan ia bersedia menanggung biaya pesta adat perkawinan, maka hal itu biasanya tak dipublikasikan. Takut ntar si pengantin lelaki dan keluarganya merasa malu.
  3. Wanita tak punya hak menentukan ‘arah keluarga baru’ yang ia akan bangun bersama suaminya. Secara ekonomis hal ini masuk akal. Bukankah si pria telah membiayai pesta, mempersiapkan tempat tinggal, dan kelak akan membiayai seluruh kebutuhan rumah tangga baru itu. Belum lagi, selama pacaran si pria yang selalu mentraktir si wanita yang kini dinikahinya itu.
Terkait hal ini, temanku, gadis Amerika lalu mengatakan, “Tampaknya sangat enak jadi wanita di Indonesia. Tinggal tunggu ada yang menikahi saja cukup. Ia tak perlu menabung, bahkan bekerja keras untuk masa depannya sekalipun. Itu karena kelak ada pria yang menaksir, menyatakan cinta, dan menikahinya kelak.”

Temanku tadi benar. Dari sudut itu sangat jelas terlihat betapa wanita cukup menanti pria yang kelak menjadi tuannnya di ranjang, pembantu bagi anak-anak suaminya, memperhatikan seluruh keperluan suami, dst. Tapi dengan syarat, si pria punya cukup pendapatan untuk semua hal itu.

Lantas bagaimana seandainya si pria bangkrut, pengangguran atau kehilangan pekerjaan, hingga kehabisan uang? Gampang. Ia tinggal menyuruh istrinya bekerja dengan alasan saling membantu. Ya, suami punya hak atas istri. Ia berhak menyuruh istri melakukan apa saja. Sekali lagi, itu karena wanita yang jadi istrinya tadi harus bersyukur ia nikahi.

*****
Ini masih terjadi di dunia modern, di saat pekerjaan dan pendapatan istri dan suami tak lagi jomplang? Ya, masih dong. Tetapi dengan cara yang sedikit berbeda, dan tentu saja lebih kreatif.

Kalau dulu wanita selalu berharap dinikahi orang kaya agar kebutuhan dan keinginannya terpenuhi, maka sekarang pria pun rela tampil sok kaya agar bisa menikahi wanita dari keluarga kaya.

Maka, demi harkat dan martabatnya sebagai orang Timur, ia dan keluarganya rela ngutang asal pesta meriah. Sebab, semakin meriah sebuah pesta nikah, maka ini menjadi pertanda bahwa mereka kaya dan status keluarga mereka akan terlihat megah dan penuh hormat.

Sebab pada akhirnya, dalam konteks budaya kita, hal terpenting dalam pernikahan bukanlah bagaimana cara membangun keluarga, tetapi pertama dan utama adalah bagaimana pesta (adat) perkawinan itu dilangsungkan.

Hingga orang kita selalu bertanya kepada siapa pun yang sudah dewasa tapi belum pengen kawin, “Kapan pestanya?” Bisa jadi itu cara mereka balas dendam, tepatnya agar semua orang rela menghabiskan pendapatannya selama puluhan tahun demi kemeriahan sebuah pesta perkawinan.

Jadi, kapan pestanya? (Lusius)