Prof. Dr. Bornok Sinaga, M.Pd: "Guru Harus Jadi Nomor Satu"

Prof. Dr. Bornok Sinaga, M.Pd: "Guru Harus Jadi Nomor Satu"
Prof. Dr. Bornok Liberti Sinaga, M.Pd di ruang kerjanya di Pascasarjana Unimed (22/4)
Penasinergi - Terkait dengan Hari Pendidikan Nasional, Pena Sinergi menemui Prof. Dr. Bornok Liberti Sinaga, M.Pd, atau akrab disapa Prof. Bornok, Direktur Pascasarjana Unimed di ruang kerjanya tadi sore (22/4).

Dalam perjumpaan, Pena Sinergi menanyakan beberapa hal tentang situasi pendidikan nasional, sebagai bentuk reflektif menjelang hari Pendidikan Nasional pada bulan Mei yang akan datang.

Menurut penuturan Profesor ahli Matematika Budaya itu bahwa pendidikan nasional sedang dihadapkan pada 3 masalah, "Ada 3 hal yang menjadi sorotan (baca: masalah) pada sistem pendidikan kita saat ini, yakni karakter pendidik yang bermasalah, buah dari pendidikan bermasalah, dan ketidaksiapan menghadapi kompetisi global. Mestinya kegiatan pendidikan itu menjawab ketiga permasalahan itu. "Ketidaksiapan itu disebabkan karena para pendidik kita sekarang ini bermasalah dalam hal ketiganya," tegasnya.

Prof. Bornok menganalogikan begini: Bila pendidik sendiri bermasalah, bagaimana mungkin ia dapat menanamkan nilai-nilai karakter kepada anak didiknya? Jika kualitas ilmu pengetahuan itu rendah, bagaimana mungkin dapat menghadirkan buah-buah (hasil) yang manis, sebagai luaran dari kegiatan pendidikan itu?

"Tak akan lahir produk unggul dari seorang pendidik yang tidak unggul. Maka, andaikata Bapak Ki Hajar Dewantara masih hidup sekarang, dia akan menangis lirih melihat kondisi anak bangsa ini: korupsi tinggi, tawuran disana-sini, gang motor, seks bebas, LGBT, dan seterusnya," tegas Prof Bornok mengungkapkan keprihatinannya dengan kondisi pendidikan nasional saat ini.

Menurut Prof. Bornok, selain merosotnya kualitas pendidik, faktor lain yang turut menghambat adalah faktor politik, bisnis penyedia sarana dan prasarana pendidikan, dan faktor lain. Faktanya, semua pihak-pihak tadi belum seirama dalam mengimplementasikan kebijakan-kebijakan pendidikan yang diterapkan. Situasi ini menambah deretan persoalan pengembangan bidang pendidikan.

"Sebagai contoh Kurikulum 2013 (K13). K13 berorientasi untuk menyiapkan ribuan SDM (tenaga pendidik) yang produktif hingga mampu bersaing secara global. Namun upaya ini justru menemui jalan buntu, karena banyaknya tekanan eksternal tadi.

Tak heran bila tarik-menarik kepentingan (conflict interest) antara pejabat politik dan pemilik industri penyedia fasilitas pendidikan tadi turut mengerem laju perkembangan pendidikan kita. Yang hendak saya katakan adalah ketika dunia pendidikan belum terlepas dari kepentingan politik, maka sulit bagi bangsa ini mewujudukan tujuan pendidikan," tegas Prof. Bornok.

Sebagaimana diamanatkan Pembukaan UUD 1945, tujuan pendidikan nasional adalah "mencerdaskan seluruh bangsa". Terkait dengan tujuan ini Prof. Bornok mengusulkan agar seluruh elemen yang terkait dengan bidang pendidikan mendukung peningkatan kualitas guru.

"Saya pikir Pendidik adalah kunci perbaikan kualitas pendidikan, sebab tak satu bangsa pun akan maju bila mengabaikan bidang pendidikan. Untuk itu perhatian yang sungguh-sungguh dari semua pihak bagi peningkatan kualitas pendidik haruslah menjadi prioritas.

Artinya, para pendidik semestinya menjadi garda terdepan dalam pengembangan bidang pendidikan: Guru harus menjadi nomor satu, sebab bidang pendidikan tak akan maju tanpa peran para Guru. Oleh karena itu mutlak harus dilakukan berbagai pelatihan yang terstruktur, terukur dan berkelanjutan bagai para guru," tegas Prof. Bornok menutup perbincangan dengan Pena Sinergi. [Lusius/Dion]