Perbedaan Gerbang Untuk Berbagi

Perbedaan Gerbang Untuk Berbagi
Paskalis dari Penasinergi (dua dari kanan) bersama anak-anak dari Pak Hutagalung: Nofry, Nisan, Dela dan Alrizi.

Pena Sinergi - Pada hari ini Gereja Katolik merayakan Hari Minggu Panggilan Sedunia (17/4). Secara ringkas, Hari Minggu Panggilan adalah momentum bagi kita untuk menyadari pentingnya panggilan hidup kita masing-masing.

Tentu saja, oleh Allah semua manusia dipanggil dengan cara berbeda. Sejalan dengan itu semua orang dipanggil menjadi pendidik, pengajar, pembimbing, dan teladan, entah apapun profesinya.

Analogi "gembala yang baik" digunakan sebagai gambaran kepemimpinan yang tak membeda-bedakan orang yang dipimpinnya, dan siapapun di sekitarnya, tanpa membedakan latarbelakang mereka.

Demikianlah setiap orang hadir sebagai sahabat bagi yang lain. Perbedaan suku dan budaya, agama dan ras yang berbeda tidak menghalangi setiap orang untuk memberikan pelajaran yang baik berbagi kebaikan bersama, agar dapat dicontohi atau diikuti bagi banyak orang yang masih mencintai permusuhan dan kebencian dalam hidup ini sampai hari ini.

Indonesia adalah Negara Pancasila yang menghargai setiap perbedaan satu dengan yang lain. Keanekaragaman inilah yang disebut Bhineka Tunggal Ika yang membuat kita sama dimata Tuhan dan dimata dunia, yaitu sesama manusia.

Tanamlah dalam diri kita pelajaran yang berarti untuk bisa membangun hidup orang lain semakin berarti, yaitu dengan cara mencintai setiap perbedaan. Entah itu perbedaan suku, agama dan ras, perbedaan status, dan lain-lain, sebab perbedaan membawa wahana pembelajaran berbagi kebaikan bersama dengan orang lain.

Perbedaan itu menggiring kita untuk bisa tawa dan bercanda, mengalami suka dan senang, bersahabat dan bersaudara sebagai satu keluarga, yaitu sama-sama manusia ciptaan Tuhan dan sama-sama warga Negara Indonesia.

Mari kita jadikan perbedaan itu sebagai suatu khasanah pendidikan berbagi kebaikan bersama, sebagaimana kami alami dalam persahabatan dengan keluarga Pak Hutagalung (beragama Muslim) di Sibolga. Keluarga Hutagalung sangat tahu bahwa kami ini seorang frater atau biarawan Katolik. Pak Hutagalung juga kalau kami bukan orang Batak, melainkan Flores, yang datang nun jauh dari Timur sana.

Kiranya persahabatan kami menjadi salah satu contoh bagi kita semua agar lebih mencintai dan menerima setiap perbedaan itu sebagai wahana pembelajaran untuk berbagi kebaikan. Inilah sebuah toleransi hidup yang baik yang harus ditiru siapa saja di zaman yang penuh dengan globalisasi ini. (Paskalis)