Masyarakat Aceh Menerima Pendidikan Katolik

Gedung Yayasan Katolik Budi Darma Banda Aceh (Insert: Pastor Hermanus Sahar, Ketua Yayasan)
PenaSinergi -Masyarakat Katolik turut memberi sumbangsih positif bagi pembangunan Provinsi Aceh. Salah satu sumbangsih itu adalah melalui Yayasan Pendidikan Budi Darma di Kota Banda Aceh yang telah berdiri sejak tahun 1952.

Sambutan terbuka masyarakat dan pemerintah Provinsi Aceh atas hadirnya Pendidikan Katolik terasa sangat positif. Tak hanya Yayasan Pendidikan Budi Darma yang terletak disamping Museum Tsunami, Pemerintah Aceh juga mengizinkan berdirinya Gereja Katolik di kota Banda Aceh.

Jalinan persaudaraan antar masyarakat yang berbeda agama, kerjasama dengan pemerintah, bermitra dengan dinas pendidikan tampak juga di setiap kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan sekolah yang mereka hadiri. Sebaliknya pihak sekolah, tokoh Gereja dan masyarakat Katolik selalu menghadiri undangan-undangan dari Pemerintah dan masyarakatan Provinsi Aceh.

Ketua Yayasan Pendidikan Budi Darma, Pastor Hermanus Sahar, Pr menegaskan realitas itu kepada Pena Sinergi saat ditemu di kantornya, di Banda Aceh pada tanggal 18 April 2016.

"Kentai belum banyak siswa di sekolah berasal dari warga keturunan Aceh, penyelenggaraan pendidikan berlangsung dengan aman dan lancar tanpa ada gangguan-gangguan" ujar pastor yang akrab dipanggi Herman ini.

Penegasan Herman seakan membuktikan bahwa masyarakat Aceh sebetulnya terbuka dan dewasa dalam menerima perbedaan dan kebhinekaan, asal kita, para pendatang (yang datang dari luar Aceh) bersahabat dengan bereka secara jujur dan terbuka.

"Tidak benar yang diberitakan di media-media di luar sana, yang mengatakan bahwa di Aceh tidak aman dan menakutkan," tegas Herman yang juga Pastor Paroki Gereja Katolik Hati Kudus Banda Aceh ini tegas.

Bukti lain betapa masyarakat Aceh itu terbuka dan bersahabat adalah 90% guru yang mengajar di TK, SD, SMP Katolik Budi Darma 90 persen adalah masyarakat setempat, dan tentu saja beragama Islam. Tak hanya itu, kepala sekolahnya sendiri pun asli Aceh dan beragama Islam. Kerjasama yang baik ini seperti inil pulalah yang menjadi kekuatan besar pemerintah Aceh dalam memajukan dunia pendidikan, yang berikutnya berdampak pada kemajuan masyarakat Aceh itu sendiri.

"Para guru kami sungguh bersikap positif dan terbuka. Mereka mudah diajak kerjasama secara serius, sehingga kami beranggapan bahwa siapapun pasti membutuhkan kasih. Bila hati diisi dengan cinta kasih, di mana pun kita akan diterima dengan baik oleh orang-orang yang berbeda dengan kita”, terang Herman yang telah 3 tahun bertugas sebagai ketua Yayasan di Budi Darma.

Herman menerapkan model kememimpin partisipatif di yayasan yang ia pimimpin. Ia selalu meminta ide dan gagasan dari guru-gurunya, termasuk dalam hal keuangan sekolah. Dana penyelenggaraan pendidikan sendiri bersumber dari SPP dan Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dari Pemerintah. Dana-dana itu disalurkan dengan baik dan terbuka, dan dalam rapat-rapat guru pada waktu tertentu posisi keuangan sekolah diberitahukan terkait dengan Pengeluaran dan Pemasukan. Demikianlah model kepemimpinan partisipatif yang dijalankan secara transparan ini disambut baik oleh para guru dan orang tua siswa.

"Para guru tidak hanya tahu arah kebijakan sekolah, tetapi serentak mereka juga memiliki sense of belonging dalam mengembangkan sekolah, tempat mereka bekeraj. Hingga saat ini saya tidak mengalami kesulitan atau hambatan yang berarti dalam memimpin Yayasan Budi Darma," tutur pastor berdarah Flores itu bersamangat.

Saat ini siswa-siwi yang bersekolah di Yayasan Budi Darma berjumlah 450 siswa, yang terdiri dari SMA 40 orang, SMP 80 orang, dan SD 250 orang dan TK 80 orang. Jumlah siswa yang akan bersekolah di Yayasan Budi Darma semakin hari semakin meningkat, sebab karakter kejujuran dan keterbukaan yang dibina terus menjadi daya tarik bagi para orangtua untuk menyekolahkan anak-anak mereka di Yayasan Budi Darma.

"Mengapa? Sebab, bila suasana sekolah kondusif dan kerjasama Yayasan dengan guru, serta antara guru dengan orang tua siswa berjalan sinergis, maka visi dan misi sekolah akan terwujud," tegas Herman.

Herman tak lupa mengucapkan terimakasih kepada Pemerintahan Provinsi Aceh atas dukungan dan kerjasama dalam penyelenggaraan pendidikan selama ini, juga kepada masyarakat serta orang tua siswa karena telah mempercayakan anak-anak untuk dididik dan diajari di Yayasan Budi Darma.

"Kami berharap terus dapat mendidik, memberikan pengetahuan yang terbaik guna pembangunan dan peningkatan kualitas sumber daya manusia masyarakat Aceh," ucap Herman menutup perjumpaan dengan PenaSinergi. (Dion)