Mansyur Hidayat Pasaribu: "Kurikulum 2013 Salah diagnosa"

Mansyur Hidayat Pasaribu: "Kurikulum 2013  Salah diagnosa"
Mansyur Hidayat Pasaribu (Ketua SeGI Deli Serdang, Direktur Pusdikra & Guru SMP Negeri 1 P. S. Tuan)
Penasinergi - Niat baik semua pihak menjadikan sektor pendidikan sebagai program prioritas, sudah terlihat sejak parlemen dan pemerintah sepakat bahwa porsi anggaran pendidikan 20% dari total APBN.

Barangkali hampir semua sepakat bahwa itu sebuah progresif yang dibuat oleh pemerintah. Ada banyak elemen sebagai faktor yang penting sebagai sebuah sistem dalam pembenahan pendidikan. Kurikulum, guru, sarana dan prasarana, menjadi elemen yang mahapenting dalam upaya pembenahan.

Kesalahan mendiagnosa penyakit akan berdampak pada kesalahan tindakan yang akan dilakukan untuk mengatasi penyakit yang didiagnosa. Sakit di kepala dengan indikasinya haarus dilihat secara holistik dan komprehensip, sebab kesalahan diagnosa menjadi awal tejadinya mala praktek dalam pendidikan. Sakit nya apa dan dikasi obat apa?

Tanpa persiapan matang, Kemendikbud era pemerintahan SBY secara gagah berani menyatakan K-13 akan berlaku nasional, bahkan klaim pemerintah dijustifikasi dengan hasil survei yang menyatakan sekolah 100% siap. Kita jadi heran, siapnya di mana? Terus siapa yang siap? Guru apa menterinya.

Jika menteri menyatakan guru siap, maka kondisinya miris. Sebab sampai dengan bulan Mei 14, hanya sebahagian kecil saja guru yang sudah di-diklat K13. Bahkan sampai saat ini buku pegangan K13 yang dijanjikan pemerintah belum juga diterima sekolah. Padahal itu jadi salah satu instrument inplementasi K13.

Ada banyak kendala yang pasti akan menghadang proses pelaksanaan kurikulum 2013. Kompetensi guru pada Uji Kompetensi yang dilakukan tahun 2012, memberikan kompirmasi kepada kita bahwa betapa kualitas pendidikan masih jauh dari harapan.

Bayangkan saja, nilai rata-rata nasional kompetensi guru adalah 4,25%, sedangkan nilai rata-rata siswa pada tahun yang sama diatas 8,00%. Itu artinya faktor guru menjadi elemen yang paling esensi dalam pembenahan kualitas pendidikan. Harus dikaui, tunjangan sertifikasi tidak berdampak banyak terhadap peningkatan kompetensi guru (kompas; 12:2012).

Ade Abdurrahman (kompasiana: 31:12:12), menyatakan guru menjadi kendala serius dalam mengimplementasikan kurikulum 2013. Lebih lanjut beliau menyatakan; rendahnya kualitas guru untuk mengintegrasikan ranah kognitif, afektif dan psikomorik secara bersamaan dalam pembelajaran akan menjadi masalah serius dalam pembealajaran.

Masalah yang tidak kalah penting dalam menerapkan kurikulum 2013 adalah tidak memadainya sarana dan prasarana pembelajaran. Idealnya, kurikulum yang sedang diuji publik ini hanya bisa dikaksanakan apabila sarana dan prasarana memadai.

Jangan hanya memaknai bahwa sarana dan prasarana hanya sebatas ruang belajar, mobiler seperti kursi dan meja. Sarana dan prasara harus mampu menyediakan seluruh pendukung pembelajaran baik yang menyangkut kepentingan siswa maupun guru.

Struktur kurikulum yang tambun dan membosankan pada KTSP memang jadi salah satu alasan mendesak perubahan kurikulum, namun itu bukan satu-satunya masalah. Perlu waktu dan kiajian yang lebih holistik dan komprehensip untuk mendiagnosa secara benar apa penyakit sebenarnya?

Akhrinya, langkah mendesak untuk dibenahi. Harus ada grand designe dan cetak biru pendidikan nasional yang terencana dan terukur. (Mansyur Hidayat Pasaribu)
PenaSinergi
Media Pendidikan dan Pelatihan (HC Consulting, Training & Coaching, Counseling & Facilitating for Personal Development, Self-Awareness, Leadership, and Communication & Excellent Attitude) dalam rangka pengembangan kualitas SDM Indonesia. Kirimkan tulisan Anda ke [email protected]

Related Posts

Follow by Email