Kuliah Itu Tak Sekedar Belajar

Kuliah Itu Tak Sekedar Belajar
Genesis Sembiring - mahasiswa International Master of Business Administration pada National Kaohsiung First University
of Science and Tecnology





Saya teringat sebuah kenangan indah ketika lulus dari Unimed, saya meraih predikat Lulusan dengan IPK tertinggi di Fakultas Ekonomi. Tentu momen ini akan menjadi kebanggan bagi saya seumur hidup saya.

Kebanggan terindah itu saya rasakan pada puncaknya ketika orang tua saya memiliki tempat duduk yang special pada perayaan wisuda. Ya, mereka seperti raja dan ratu pada saat itu. Kebanggaan ini menjadi sempurna ketika saya lulus beasiswa pascasarjana di National Kaohsiung First University of Science and Technology Di Taiwan dengan jurusan yang sudah lama saya dambakan yaitu International Master of Business and Administration.

Setidaknya, saya bisa memukul telak orang yang sering menyatakan kepada saya bahwa IPK tinggi itu tidak memilik arti istimewa heheheheh.

IPK bukanlah satu satunya indicator keberhasilan. Banyak variabel lain yang berpengaruh signifikan, seperti semangat dan kerja keras. Nah, semangat dan kerja keras itu jugalah yang saya punya untuk meraih hasil maksimal ketika berkuliah di Unimed.

Salah satu faktor yang mempengaruhi saya bisa belajar maksimal adalah peran sebagian dosen yang vital dalam hidup saya. Mereka bahkan menjadi orang tua kedua bagi saya. Oleh sebab itu, kuliah di Unimed adalah hal yang patut kita sukuri.

Ketika masih kuliah, saya memiliki rutinitas yang sangat padat, kenapa tidak, saya adalah anggota Senat Mahasiswa FE Unimed dan ketua Kelompok Diskusi Ilmu ekonomi pada saat itu. Tidak berhenti disana, saya juga adalah pengajar Ekonomi di salah satu Bimbingan belajar di Medan.

Tentu, dalam perhitungan logika saya tidak punya waktu lagi untuk belajar, tapi kenyataannya saya tetap punya waktu untuk belajar. Belajar tidak pandang tempat, dimanasaja kita bisa belajar.

Mahasiswa yang menyatakan tidak punya waktu belajar karena sibuk adalah sebuah kebohongan, apalagi yang beralasan karena berorganisasi jadi tidak sempat belajar. Jadi sebenarnya belajar itu adalah kemauan. Ya, kemauan untuk berjuang dan mengejar cita cita.

Dengan rutinitas yang begitu padat, tentu tidak mudah bagi saya membagi waktu. Nah, oleh karena itu saya memanagemen waktu saya dengan bijak. Biasanya, kalau saya ingin menghafal materi pelajaran, saya menulisnya di kertas lalu saya bawa kemanapun saya pergi, jadi dimanapun saya berada saya tetap bisa belajar, tidak terkecuali ketika berpacaran. hheheehe.

Salah satu kebiasaan saya ketika libur semesteran tiba, adalah tidak mau tinggal di kampung terlalu lama. Biasanya saya dikampung hanya seminggu, lalu setelah itu kembali kemedan dan ikut pelatihan atau Bimbel Bahasa inggris, sebagai informasi saya memang bercita cita bisa sekolah keluar negeri sudah sejak semester 1.

Nah, agar belajar bisa lebih maksimal , belajar itu harus dimulai dari hati dan dinikmati dengan hati. Maka, jadikanlah belajar itu seperti makan, mau tidak mau, enak tidak enak, dan suka tidak suka, harus tetap belajar agar tetap bisa hidup. Nikmati studimu dan gapailah mimpimu. Salam Hangat Dari Kaohsing Taiwan.


Penulis: Genesis Sembiring 
Mahasiswa International Master of Business Administration pada National Kaohsiung First University of Science and Tecnology)