19 Apr 2016

Komisi HAK KWI: “Pendidikan Adalah Kunci Kerukunan”

0
Komisi HAK KWI: “Pendidikan Adalah Kunci Kerukunan”
Pastor Agustinus Pr. (Sekretaris Eksekutif Komisi Hubungan antar-Agama dan Kepercayaan KWI)
Disela kunjungannya ke Banda Aceh, Pena Sinergi menyempatkan diri berbincang dengan Sekretaris Eksekutif Komisi Hubungan antar-Agama dan Kepercayaan Konferensi Waligereja Indonesia (Komisi HAK-KWI), Pastor Agustinus Pr.

Berikut hasil wawancara ekslusif Pena Sinergi (PS) dan Pastor Agus yang berlangsung pada hari Sabtu, 16 April 2016:

PS: "Menurut Pastor Agus, apakah kerukunan bisa dibina lewat pendidikan formal, SD, SMP, SMA hingga Perguruan Tinggi?"

"Bukan hanya bias, tetapi harus dan mutlak! Sebab pendidikan adalah kunci dari proses pembentukan manusia yang manusiawi. Relasi kerukunan sendiri merupakah salah satu pola hidup manusia yang manusiawi (human being)."


PS: "Selama pastor amati saat ini kira-kira dunia pendidikan kita seperti apa ya?"

"Pendidikan Indonesia sedang mengalami kemerosotan jika dibandingkan dengan tahun 70-an. Bagi saya, pendidikan itu mencakup 3 hal:
Pengajaran, pengalihan ilmu pengetahuan (transfer knowledge), peningkatan ilmu pengetahuan;
Pembinaan/pembentukan karakter, sasaran kepribadian manusia seperti perilaku, cara berpikir dan cara bertindak yang sesuai dengan dasar nilai-nilai hidup. Bagian ini kelihatannya sangat macet; dan
Pelatihan, terutama dalam bentuk pelatihan skill/keterampilan.

Secara ringkas ketia poin penting di atas bisa diringkas menjadi otak, hati dan otot. Ketiga hal ini yang harus menjadi fokus perhatian kita bersama. Tapi kenyataannya pendidikan kita kini lebih fokus pada otak dan otot.

Hasilnya, insan pendidik sekarang memiliki keterampilan (skill) yang bagus, tetapi hati dan nilai-nilainya kurang bagus. Mereka lebih suka menggunakan otak dan ototnya, bukan untuk hal-hal bagus tapi untuk hal-hal buruk. Ini problem dunia pendidikan kita sekarang. Kita harus mengutamakan pembinaan hati manusia, penagkaran nilai-nilai untuk pembiasaan karakter."


PS: "Apa para guru sudah tidak punya hati lagi?"

Agus: "Isi hatinya sudah lain. Mereka salah menafsir perubahan-perubahan zaman. Namun, masih ada pendidik yang punya hati, karena memang setiap manusia memiliki hati. Kendati sangat sedikit jumlahnya. Coba bayangkan bila pendidik tidak punya hati: apa yang mereka ajarkan untuk anak didik. Pepapatah kuno “guru kencing berdiri, murid kencing berlari” kini malah lebih parah lagi 'guru kencing berlari, murid kencingi gurunya'. Untuk itu para guru harus ekstra hati hati. Pada saat guru melakukan kesalahan kecil, maka anak didik bisa banting balik guru itu. Karena kecangihan yang ada sekarang, kita sadar betapa beratnya tanggung jawab seorang guru."


PS: "Lantas apa yang membuat hal itu terjadi?"

Agus: "Dulu ada pendidikan Agama, Budi Pekerti, dan Moral Pancasila. Bobot pendidikan itu kini sudah jauh dibawah standar dulu. Dulu ada upacara bendera, P4, dsb. Yang di kemudian hari turut membangun nasionalisme kita dan membina hidup social kita. Oleh karena itu perlu praktek pembiasaan: punya hati bagi yang lain dan punya kepedulian bagi yang lain.

Sekarang orang tak punya rasa malu saat melakukan kesalahan. Oleh karena itu pembinaan murid perlu didorong berbasis keluarga, sekolah, dan agama. Ketiga pihak itu harus saling bersinergi, entah formal atau informal hal itu perlu dibiasakan secara terus menerus."


PS: "Bagaimana pastor melihat upaya sertifikasi yang diberi pemerintah?"

Agus: "Di satu sisi kita bersyukur atas upaya itu. Tetapi jangan lantas sekedar kelengkapan admninstrasi. Materi untuk sertifikasi harus jelas dan berbobot. Jangan hanya orientasi proyek. Istilah revolusi mental dari Presiden kita sangat tepat dimulai dari pendidikan.

Revolusi mental di dunia pendidikan harus dimulai dari disiplin. Harus ada aturan bersama. Displin harus ditingkatkan, apalagi disiplin di sekolah-sekolah sekarang ini nyaris tak diajarkan, atas nama haka asasi manusia mengekspresikan kebebasannya. Kita menyalahartikan kebebasan. Kita ingin sebebas bebasnya. Memangnya manusia bisa hidup sendiri? Kan tidak. Kita hidup bersama dengan orang lain.

Tidak ada satu pulau pun didunia ini yang lepas dari pulau lainnya. Nobody in island. Untuk itu kita butuh penghayatan bersama. Ukuran revolusi mental, misalnya kita mulai dari tertib berlalu lintas. Sebaliknya, bila hukum dan aturan tidak jalan, maka itu berarti pendidikan kita belum beres. Apa revolusi mental itu jalan? Selama tidak orientasi proyek, itu tidak jalan."


PS: "Maksudnya dengan “orientasi proyek”?"

Agus: "Ya, kelihatannya pendidikan kita masih orientasi proyek. Targetnya masih soal serapan anggaran, bukan output yang dihasilkan. Kalau berorientasi pada serapan anggaran, ya gampang sekali. Tinggal buat proposal, penuhi adminsitasi, buat laporan pertanggung jawabkan, lalu selesai."


PS: "Apa yang harus dilakukan pemerintah sekarang?"

Agus: "Koreksi ke dalam (internal, auto-kritik), seperti yang dilakukan Paus Fransiskus dalam mengoreksi Gereja."


PS: "Caranya bagaimana?"

Agus: "Presiden Jokowi harus berani inspeksi mendadak, blusukan dari atas hingga ke bawah. Periksa betul, termasuk kelembaga pendidikan. Kuncinya disitu. Jangan sampai ganti menteri ganti kebijakan, terus begitu. Kalau hal ini terus-menerus berulang, maka prinsip sustainability itu hanya mimpi saja. Kalau sistem dan timnya kuat sustainability akan jalan, tetapi kalau individu yang lebih berperan maka ganti orang ganti sistem. Sekarang soliditas tim belum jalan. Maka hal utama yang harus dilakukan adalah membangun soliditas tim, dan diikuti oleh penerapan berkelanjutan. Dengan catatan apa yang sudah bagus harus diteruskan."


PS: "Apa tanggapan Pastor melihat kurikulum yang selalu berubah-ubah?"

Agus: "Justru itu kekurangan dan titik lemah sistem pendidikan kita. Dalam hal ini saya masih mengagumi Orde Baru. Dengan tangan besi Soeharto kita lihat semua sistem berjalan teratur. Semua hal terencana. Dulu ada Repelita. Rencana yang dibangun jelas. Sekarang kita tidak tahu rencana dan arah pendidikan kita. Program yang ditawarkan bersifat instan. DPR kita juga lebih betah berdebat dan berputar-putar dengan dalih menyusun undang-udangn. Faktanya semua itu mereka lakukan melulu demi kepentingan pribadi dan kelompok mereka saja."


PS: "Berarti kepemimpinan tangan besi masih diperlukan?"

Agus: "Dalam arti tertentu itu diperlukan, di manapun hidup bersama itu, dalam arti tertentu kepemimpinan tangan besi itu diperlukan. Tangan besi dalam arti ketegasan, keteraturan dan kejelasan yang keberlanjutan. Bila tidak, maka akan terjadi ketidakbecusan. Pemerintah sekarang memang sudah tegas tetapi belum kokoh. Tegas konsep, praktek belum tegas. Ahok layak dicontoh. Masih banyak baiknya daripada salahnya."


PS: "Terakhir, apa harapan pastor dalam hal pendidikan kita?"

Agus: "Kembalikan substansi pendidikan Indonesia, yakni untuk membentuk manusia indonesia yang utuh dan Pancasilais. Selanjutnya kawal tujuan pendidikan itu dengan konsekuen, kontekstual, berkelanjutan, dengan tim dan sistem yang jelas. Sebab pendidikan kunci segalanya." (Dion/Lusius).
Author Image
AboutPenaSinergi

Soratemplates is a blogger resources site is a provider of high quality blogger template with premium looking layout and robust design