Kakanwil Kemenag Aceh: Dunia Pendidikan Tempat Persemaian Kerukunan

Kakanwil Kemenag Aceh: Dunia Pendidikan Tempat Persemaian Kerukunan
Seminari Kerukunan dengan tema "Dialog dalam Kebenaran Kasih" di Banda Aceh (15/4).
Insert: Drs. H.M Daud Pakeh (Kakanwil Kemenag Provinsi Aceh)
Pena Sinergi-"Semua agama pasti memiliki program yang fokus pada pembinaan kerukunan antar umat beragama dan menginginkan kerukunan itu terpelihara dengan baik di tengah masyarakat", demikian dikatakan oleh Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Aceh, Drs. H.M Daud Pakeh, saat menjadi narasumber pada seminar Kerukunan “Dialog dalam Kebenaran dan Kasih” yang diselenggarakan Komisi HAK KWI dan Ditjen Bimas Katolik Kemenag RI, di Hotel Mars, Banda Aceh (15/4).

Saat ditanya mengenai situasi keberagaman di Aceh, Daud menegaskan bahwa kerukunan antar umat beragama di Provinsi Aceh sejauh ini terpelihara dengan baik. Hanya saja, akhir-akhir ini terusik kejadian Singkil.

"Peristiwa Singkil sebenarnya bukanlah persolan agama, melainkan persoalan politik yang dipoles seakan-akan sebagai persoalan agama. Seharusnya peristiwa Singkil baukan persoalan besar hingga menjadi masalah nasional apabila pemerintahan daerah Aceh Singkil cepat tanggap dalam menyikapinya. Kendati demikian persoalan ini perlahan bisa teratasi, dan keadaan di Aceh Singkil pun sudah kondusif", tegas Daud bersemangat.

Daud Pakeh kembali menegaskan bahwa kondisi kerukunan antar umat beragama di Provinsi Aceh secara umum terpelihara dengan baik, dan oleh Kementerian Agama Provinsi Aceh kerukunan itu terus ditingkatkan. Hal ini menjadi sangat penting agar peristiwa Singkil tidak terulang kembali di bumi Aceh.

Daud mengajak peran serta segenap lapisan masyarakat, terutama peranan tokoh agama, tokoh masyarakat dan tokoh pendidikan mutlak bekerjasama demi hadirnya kerukunan ditengah umat beragama di bumi Aceh.

"Semua tokoh-tokoh penting publik harus memahami dengan baik arti dan makna pentingnya kerukunan di tengah masyarakat dan mendukung seluruh kegiatan pembangunan nasional. Komunikasi dalam pertemuan-pertemuan dan saling berbagi pengalaman sangat efektif untuk bisa saling memahami dan menghargai satu sama lain, di antara pihak yang berbeda," tandas Daud yang menjabat sebagai Kakanwil Kemenag Provinsi Aceh sejak tanggal 04 Maret 2015 silam.

Daud menambahkan bahwa peranan dunia pendidikan (formal) pun sangat penting, terutama dengan cara memberikan kesempatan untuk mendiskusikan perbandingan agama. Tujuannya agar lahir pemahaman yang baik tentang perbedaan-perbedaan yang ada sembari melahirkan sikap positif menghargai satu sama lain.

"Fungsi dan peranan dunia pendidikan pun begitu penting, terutama agar sejak dini anak-anak belajar untuk saling memahami perbedaan satu sama lain, terutama mengenai hal-hal yang prinsipil. Dengan demikian kita mampu memandang perbedaan sebagai kekuatan yang justru menghadirkan kerukunan, karena sudah terbiasa berkomunikasi dan mendiskusikan perbedaan-perbedaan," tegas Daud.

"Pendidikan multi kultural sangat diharapkan dapat terpelihara di lembaga pendidikan formal. Di sekolah, seorang guru harus menegaskan bahwa setiap orang memiliki martabat yang sama sebagai ciptaan. Oleh karena itu jangan sampai ada pihak yang memandang orang lain secara tidak baik, atau malah beranggapan bahwa kelompoknyalah yang terbaik. Padahal penerimaaan akan orang lain yang berbeda dengan kita justru merupakan modal bagi lahirnya kerukunan," ujar Daud sembari menekankan bahwa pemahaman-pemahaman sepert itu perlu ditumbuhkembangkan di kalangan siswa, mahasiswa, dan para pendidik.

Di akhir diskusi, Daud membuka rahasianya dalam menumbuhkan rahasianya dalam menumbuhkan kesadaran akan kebhinekaan masyarakat Aceh, tempat ia berkarya sebagai abdi negera, "Jangan mempersamakan yang berbeda, namun menghargai hal-hal berbeda". (Dion)