Jurnalistik Itu Menggelitik

Jurnalistik Itu Menggelitik
Suasana  Pelatihan Jurnalistik di salah satu ruang kelas kampus FE Unimed Medan, Rabu (6/4/16) 
PenaSinergi - Ruangan yang sempit dan panas tak menghalangi semangat 13 mahasiswa saat mengikuti pelatihan Jurnalistik di salah satu kampus di Medan, pada hari Rabu (6/4) lalu.

Pelatihan ini dimaksud untuk membekali para mahasiswa tentang pentingnya menulis dalam rangka berbagi ilmu dan pengalaman hidup. Keberadaan media saat ini, sebagaimana disampaikan oleh Lusius Sinurat, sunguh tak bisa kita hindari.
"Media (jembatan, perantara, sarana, etc.) adalah jembatan yang menghubungkan si empunya berita yang mengirim berbagai informasi (sender) dan si pembaca atau penerima berita (reciever) . Artinya, media itu wahana yang membentangkan berbagai informasi dari si pengirim informasi (penulis) kepada penerima informasi (pembaca)," tandas Lusius, alumni Fakultas Filsafat Unpar Bandung ini.
"Saat ini, hampir semua hal ada di media. Kalau tidak percaya cari deh di Google. Realitas ini lantas berarti bahwa orang yang menguasai media adalah orang yang menguasai dunia.
Di titik inilah kita bisa memahami mengapa media sering dimengerti sebagai 'keterhubungan antara berbagai hal'. Sebab, melalui media kita dapat saling berbagi informasi. Melalui media, komunikasi berlangsung lebih mudah dan menghemat jarak dan waktu sebagaimana bila komunikasi dilakukan secara tradisional,"tegas Pemimpin Redaksi Pena Sinergi ini.
Lusius menegaskan bahwa komunikasi biasanya berlangsung dengan dua cara, entah secara monologis (searah), entah secara dialogis (dua arah). Baik monologis maupun dialogis harus dipahami dengan sungguh oleh seorang penulis.

"Maka, seorang penulis harus tahu kemampuan dirinya dalam menulis (who), apa yang hendak disampaikan (what), kepada siapa dan ke mana tulisan itu dialamatkan (where), kapan saat yang tepat untuk menulisnya (when), mengapa ia menulisnya (why) serta bagaimana caranya agar tulisan itu menjadi sebuah kerangka yang utuh (how)," tandas pria yang akrab dipanggil Lusius ini.
Rumus ini sering disebut 5W+1H . Dengan rumusan ini seorang penulis harus mampu melihat, membaca, menganalisa, mendalamai hingga menuangkannya dalam sebuah tulisan dengan caranya sendiri (unik, personal, subyektig) hingga tampil menjadi sebuah bacaan yang menarik," tutur anggota Komunitas Blogger Indonesia ini.
Di akhir sesi, Lusius kembali menegaskan betapa pentingnya membaca bagi seorang penulis. Menurut Lusius, tindakan utama yang harus dilakukan seorang penulis adalah membiasakan diri membaca.

"Kebiasaan membaca akan sangat menentukan gaya dan arah tulisan kita. Membiasakan diri rajin membaca tak pelak lagi akan menjadi modal termahal bagi seorang penulis. Tak seorang pun memanen sesuatu tanpa menanam sesuatu," seru Lusius seraya mengajak peserta untuk membaca, membaca dan membaca.

"Hal lain yang tak kalah penting dari seorang jurnalis adalah kemampuan melihat hal-hal kecil yang sering dilupakan banyak orang. Artinya, seorang jurnalis harus mampu melihat fakta dengan mata hati dan 'mewartakannya' di dalam dalam tulisan secara unik."

Jurnalistik Itu Menggelitik
Panitia Pelatihan Jurnalistik berfoto besama pemateri.
Pelatihan singkat selama 1,5 jam ini pun berakhir. Dionisius Sihombing menarik benang merah hasil pertemuan. Dion menekankan betapa seorang penulis berbeda dnegan seogan pembaca. Inilah perbedaan yang ia maksud: bila seorang penulis pasti juga seorang pembaca, sedangkan seorang pembaca belum tentu seorang penulis"

Di akhir sesi, para peserta mengungkapkan kesan mereka mengenai pelatihan jurnalistik ini. Salah satunya Harmoko. Bagi Harmoko, jurnalistik adalah cara untuk selalu eksis. Senada dengan Harmoko, peserta lain bernama Dewi Apriani mengugkapkan kesannya via email,

"Pada pelatihan jurnalistik pertama ini, saya mendapat banyak pelajaran mengenai jurnalistik. Mengenai sastra yang baik. Saya juga diajarkan melihat pandangan terhadap suatu benda secara kritis, dalam pengambilan judul yg menarik untuk membuat suatu artikel. 

Maka, jadilah seorang penulis bukan hanya seorang pembaca. Sebab penulis pasti bisa membaca, tetapi pembaca belum tentu bisa menulis," kata Dewi bersemangat. (Dewi, Wulan, Ernita, Harmoko, Desi, Ayu, Budi, Tio, Vivi / Dion)
PenaSinergi
Media Pendidikan dan Pelatihan (HC Consulting, Training & Coaching, Counseling & Facilitating for Personal Development, Self-Awareness, Leadership, and Communication & Excellent Attitude) dalam rangka pengembangan kualitas SDM Indonesia. Kirimkan tulisan Anda ke [email protected]

Related Posts

Follow by Email