Bencana dan Kurikulum 2013

Adven Tambun, Praktisi Pendidikan & Pengajar Bahasa Spanyol
Pena Sinergi - Bencana menjadi teman kita sekalipun bukan sahabat yang layak diundang untuk makan malam. Mulai dari banjir, tanah longsor, gempa bumi hingga letusan gunung berapi menghiasi keseharian kita baik sebagai korban langsung atau sekedar penikmat berita melalui media massa baik cetak maupun elektronik.

Dari kacamata pendidikan, sesuatu yang melekat dalam keseharian kita sangat pantas dijadikan sebagai material dalam dunia pendidikan. Langkah Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh layak diberi apresiasi dengan memasukkan mitigasi bencana dalam Kurikulum 2013. Bahkan secara khusus material mitigasi tersebut akan disesuai dengan karakteristik bencana setiap daerah. (Kompas 4/02/2014).

Spirit non scholae sed vitae discimus, kita belajar bukan untuk nilai tetapi untuk kehidupan, terungkap dalam semangat memasukkan peristiwa real aktual ke dalam ruang kelas. Peserta didik tidak semata-mata diberikan pengetahuan tentang bencana tetapi bagaimana hidup berdampingan dengan musibah tersebut.

Ide besar ini seharusnya dapat dikembangkan menjadi material tambahan pada mata pelajaran inti, bukan sesautu yang terpisah atau hanya dimasukkan ke dalam kegiatan extrakurikuler saja. Bencana yang selalu mengintai bangsa ini harus masuk dalam materi pelajaran. Sekalipun bencana selalu terlokalisasi di satu tempat, tetapi pengaruhnya dapat bedampak nasional. Bencana yang melanda satu titik di negeri ini adalah bencana untuk semua.

Apa artinya bencana gunung Sinabung bagi siswa yang tinggal di Jakarta? Atau sebaliknya, apa gunanya bagi masyarakat di bawah kaki gunung Sinabung untuk mempelajari banjir Jakarta?

Ruang kelas seharusnya mampu menjadi titik temu bagi siswa berbeda wilayah bencana. Ruang kelas adalah tempat refleksi siswa non-korban untuk memahami penderitaan sesamanya di tempat yang mungkin tak pernah ia kunjungi. Persis inilah fungsi ruang kelas sebagai komunitas nasional yang mampu membangkitkan solidaritas memalui mata pelajaran inti.

Dalam hal inilah fungsi ruang kelas tidak jauh berbeda dengan fungsi media massa yang memberikan informasi tentang bencana dan pada saat yang sama menumbuhkan simpatik dari pemirsa untuk memerikan bantuan. Mata pelajaran harus mempu menyerap informasi tentang bencana alam dan mengolahnya menjadi bagian dari mata pelajaran inti.

Fakta-fakta lapangan seperti jumlah pengungsi dan persediaan makanan adalah bahan yang sangat menarik untuk dijadikan sebagai basis soal Matematika. Volume air banjir dan curah hujan menjadi bahan yang terlalu menarik untuk tidak disentuh oleh mata pelajaran Biologi. Tanah longsor dan Letusan gunung berapi dapat menjadi material yang menantang untuk diolah di kelas Fisika. Tentu paparan material seperti ini harus disesuaikan dengan tingkatan kelas.

Tema banjir dapat dibahas secara bersamaan baik di SD maupun di SMA dengan tingkat kesulitan yang berbeda. Target utamanya tetap meningkatkan kemampuan akademik anak. Material didik yang akurat efektif akan mampu melahirkan empati individual siswa dan yang berujung pada tindakan komunal seperti mengumpulkan sumbangan untuk para korban. Pada titik inilah ruang kelas telah mampu menjadi gerakan komunitas nasional.

Strategi kreatif juga dibutuhkan ketika pembahasan bencana alam mengarahkan agar peserta didik pada akhir pelajaran mengadakan komunikasi langsung antara sesama peserta didik baik yag menjadi korban maupun tidak. Dengan sedikit bersabar dan tekun, akan ditemukan cerita-cerita pribadi korban bencana alama di twitter, Facebook atau media sosial lainnya. Material seperti ini tentu cocok dimasukkan dalam pelajaran Bahasa Indonesia.

Bencana yang melanda negeri ini adalah tantangan langsung bagi Kurikulum 2013, sejauh mana mega konsep tersebut mampu menjadi benih unggul untuk menyiapkan anak didik tidak hanya sigap dengan target-target akademik, tetapi juga mempu menciptakan kesadaran individual terhadap situasi-situasi real aktual di masyarakat sekitarnya. Siswa tidak lagi dipisahkan dengan konteks sosialnya, tetapi sebaliknya kelas adalah ruang refleksi situasi sosial di sekitarnya.

Inilah yang menjadi tantangan terbesar dalam dunia pendidikan, menjadikan ruang kelas sebagai motor perubahaan, tetapi sebelum sampai pada tahapan tersebut, kesadaran individual harus dibangkitkan dengan pendekatan material ajar dari kejadian sosial aktual, seperti bencana alam yang sedang melanda kita semua.

Kendala besar di lapangan adalah kemampuan pengajar yang tidak dengan mudah menyerap situasi aktual dan mengolahnya di dalam kelas sebagai material ajar yang menarik, mendidik dan deduktif. Ini adalah tantangan bagi semua pemangku kepentingan pendidikan untuk menemukan pola terbaik bagaimana menjadikan ruang kelas sebagai basis reflektif situasi aktual dan mengolahnya menjadi bahan ajar.

Keberhasilan Kemdikbud bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) membuat buku dan CD dengan materi mitigasi harus ditindaklanjuti dengan pengolahan lebih mendalam agar dapat sepenuhnya menjadi bahan dalam mata pelajaran inti. (Adven Tambun)
PenaSinergi
Media Pendidikan dan Pelatihan (HC Consulting, Training & Coaching, Counseling & Facilitating for Personal Development, Self-Awareness, Leadership, and Communication & Excellent Attitude) dalam rangka pengembangan kualitas SDM Indonesia. Kirimkan tulisan Anda ke [email protected]

Related Posts

Follow by Email