Sulit Berubah

Sulit Berubah
Penulis (Dr. Dionisius Sihombing, MSi) saat bersua dengan Gubernus Sumatera Utara dalam sebuah acara.
"Perubahan" adalah kata yang sering saya dengar. Tak hanya itu, saya pun turut mengucapkannya kepada orang-orang muda, para mahasiswa, para pendidik di berbagai kesempatan, entah formal entah non-formal.

Kata yang sama juga sering saya sampaikan di forum ilmiah, saat mengisi rubrik radio, lewat tulisan di media cetak, seperti koran, majalah, bahkan media elektronik dan internet. Tak jarang saya seolah-olah menobatkan diri sebagai aktor perubahan itu.

Dalam berbagai perbincangan sering terdengar kalimat "Sulit untuk berubah!" Selama puluhan tahun sebagai pendidik saya mencermati adanya fluktuasi sikap dan orientasi manusia tentang membangun masa depan. Berbeda dengan orientasi orang di era digital ini yang melulu tentang 'hari ini', generasi 70-an hingga 90-an justru berorientasi pada masa depan. Ada perbedaan signifikan tentang sikap, tindakan dan cara menetapkan strategi dalam memutuskan sesuatu dari kedua generasi tersebut.

Tak elok memang untuk membanding bandingkan suatu masa. Namun hal itu tak justru tak terelakkan. Bukankah hidup dan situasi kehidupan itu selalu terkait di tiap generasi? Maka apapun situasinya perubahan itu selalu saling terkait dan berhubungan satu sama lain, dari masa ke masa. Kapan persisnya periode perubahan terjadi pada seseorang, tak ada jawaban pasti.

Misalnya lembaga pendidikan kita yang akhir-akhir ini belum mampu menghadirkan perubahan positif pada lulusannya. Sungguh ironis. Semakin orang bebas menikmati pendidikan, ditambah penyediaan fasilitas yang semakin lengkap oleh pemerintah justru tak menggiring lembaga pendidikan pada perubahan mentalitas dan moralitas. Sebaliknya, pendidikan kita justru mengarah ke hal buruk dan mengerikan dari hari ke hari.

Kenyataannyabanyak orang terjerat korupsi, bahkan terjerembab oleh 'menggiurkannya' narkoba hingga menjerat oknum petugas yang mestinya pencegah. Tak hanya itu, masyarakat kita malah sudah terbiasa berbohong dan suka mengumbar janjimanis, hidup secara pragmatis, transaksionaldan terperangkap oleh pola hidup materialisme dan hedonisme atas desakan pasar modern yang menghidangkan menu-menu baru yang menggiurkan.

Tidak bisa disangkal bahwa pihak-pihak yang menentukan arah kebijakan di setiap lini kehidupan adalah kaum terdidik dan lulusan lembaga pendidikan formal. Jadi mau tak mau, suka dan tidak suka bahwa pendidikan kita masih belum berhasil untuk merubah pola pikir dan pola pandang manusia sekolah, apalagi dituntut untuk melakukan aksi konkrit untuk memperbaiki keadaan hidup sesuai cita-cita pendidikan nasional untuk mencerdaskan dan ikut serta membangun dunia.

Memanusiakan manusia sebagaimana dicetuskan Soeharto selama 33 tahun memerintah, kini justru semakin diperparah oleh aneka keadaan yang seolah menandaskan bahwa banyak manusia Indoensia perlu dimanusiakan kembali soal sikap dan moralitas sebagai manusia.

Hal inilah yang dipertegas oleh Presiden Joko Widodo lewat "Revolusi Mental" di semua lini kehidupan, khususunya di lembaga pendidikan. Betapa kuatnya peranan para stakeholders pendidikan untuk membangun peradaban hidup manusia yang semakin manusiawi.

Sayangnya kehendak kuat itu tak diimbangi oleh komitmen yang serius untuk membangun sektor pendidikan. Lihat saja kesejahteraan pendidik yang amat sangat rendah dibanding profesi lain, ditambah lagi mudahnya seseorang mendapatkan profesi sebagai guru/dosen. Seolah-olah begini: siapa saja bisa jadi pendidik, asal ia mau, bahkan tak mempedulikan kualitas ilmu dan kualitas karakter personalnya. Akibatnya profesi kependidikan terkesan dihuni oleh orang-orang yang "asal ada".

Banyak ahli berucap bahwa tak mungkin pendidikan menghasilkan hal bagus bilamana orang-orang yang bertugas untuk itu tak bagus. Saya juga sependapat dengan mereka. Namun, bagaimana langkah untuk mengubahnya mari kita cari jalan keluarnya secara bersama-sama.

Memang sulit untuk berubah


Darimana perubahan itu dimulai? Banyak pihak mengatakan perubahan itu datang dari diri sendiri dan dari keluarga inti. Memang betul, tetapi apakah diri seseorang akan berubah tanpa ada pengaruh orang lain, atau melulu karena diriku sendiri, atau malah mutlak karena keluargaku? Tentu jawabnya tidak. Lingkungan di mana kita tinggal atau lingkungan interaksi kita turut memengaruhinya.

Lantas bagaimana? Mungkin perlu sistem yang tegas, tak kenal toleransi dan kompromi mengenai kualitas dan karakter manusia Indonesia. Selanjutnya, hukum harus tegas, agar tidak ada permainan. Hanya dengan cara ini akan tersaring orang-orang cerdas dan berkepribadian mumpuni di negeri ini.

Presiden Jokowi harus di dukung untuk menyeleksi orang-orang cerdas dan berkatakter sebagai tim kerjanya. Hendaknya mereka itu adalah orang-orang yang siap miskin dan dimiskinkan demi merubah masa dan adan manusia Indonesia di masa mendatang. Sebab tugas itu tak mudah. Mereka akan dihadang, bahkan disingkirkan oleh angkatan 'jeblok' yang kini jumlahnya masih sangat banyak.

Selain itu, Presiden Jokowi juga harus merekrut orang-orang dari Sabang hingga Merauke untuk di-install ulang otaknya hingga siap dipakai menjadi alat perubahan manusia indonesia. Selanjutnya mereka diasingkan di suatu tempatdalam waktu tertentu hingga lulus dan siap diterjunkan kembali ke kehidupan masyarakat.

Hemat saya, ini adalah langkah potensial, dan bila tidak dilakukan maka upaya pemerintah dengan program-propgam yang dicanangkanakan sia-sia. Bila habis periode pemerintahan, kelak akan berubah lagi bahkan bisa lebih parah lagi. Jadi harus ada orang yang cerdas dan berkarakter yang dijamin pemerintah untuk mencerdaskan dan mengkarakterkan manusia indonesia, diluar dari peran guru dan dosen.

Keadaan negeri ini sangat memprihatinkan dan sulit menemukan jati dirinya bila pemimpin tidak bekerja sebagai tim dan dengan kinerja yang terukur, serta memiliki visi yang berkelanjutan. Saya bangga dengan gerakan Presiden Jokowi, Ahok dan lainnya yang telah merobohkan tradisi pemimpin dilayani menjadi pelayan. Walau ada pro dan kontra, namun jelas ada karya nyata yang mereka lakukan demi perubahan itu.

Jumlah mereka yang pro-perubahan itu sangat sedikit. Oleh karena itu, mereka saja pasti tak cukup kuat menghadapi orang-orang yang anti-perubahan. Kondisi saat ini akan sulit diubah, sebab hanya segelintir insan pengubah yang bisa diandalkan. Akhirnya, pemerintah bersama masyarakat, perlu menambah bilangan orang-orang yang pro-perubahan, dan itu harus dipersiapkan terutama oleh lembaga pendidik lewat tindakan menghimpun, mendidik, dan menginstall-ulang otak mereka dengan otak manusia baru.

Semoga tulisan ini menginspirasi pembaca.
Salam Perubahan! (Dion)