Si Terdidik Mestinya Cerdik

Si Terdidik Mestinya Cerdik
Pendidikan adalah proses; sementara pengajaran hanyalah satu sisi dari pendidikan dan selalu berlangsung dalam ruang dan waktu terbatas. Maka saya selalu mengatakan bahwa seorang terdidik semestinya mampu menjalani hidup dengan cerdik.

Seorang terdidik selalu memiliki gairah untuk menemukan asas dan prinsip belajar demi memudahkannya menjalani hidup kesekesehariannya. Si terdidik juga selalu mampu memotivasi dirinya sendiri hingga ia sungguh tahu dan menyadari tingkas emosinya, apa saja minatnya dan bagaimana memadukan ke-diri-annya itu memudahkannya memenuhi kebutuhannya.

Di titik inilah si terdidik selalu mampu memengaruhi orang di sekitarnya. Ya, dia selalu mampu menggiring orang lain bekerjasama dengannya, atau minimal merasa termotivasi karena ia selalu melakukan aktivitasnya secara kreatif.

Pendek kata, hanya mereka yang sungguh terdidiklah yang kelak mampu menjadi pendidik. Tentu saja tak mudah menjadi pendidik. Ia bukan sekedar guru yang mengajar, tetapi sekaligus sosok yang menanamkan nilai-nilai pendidikan lewat kemampuan intelektualnya, dan terutama lewat teladannya.

Secara bercanda, saya pernah mengatakan bahwa menjadi guru itu jauh lebih sulit dari sekedar menjadi pejabat di Jakarta. Penulis teringat perkataan Ahok, sang gubernur DKI saat ini, "Menjadi gubernur di Jakarta ini enak. Banyak orang pinter, ahli dan profesional dengan segudang titel dan prestasi."

Persoalannya adalah tak semua orang pinter dan profesional serta-merta mampu mengimplementasikan teori yang mereka pelajari di "bangku sekolah". Inilah perbedaan orang pinter dan cerdas. Kalau orang pinter selalu mengandalkan otaknya (mind) untuk menuntaskan tiap persoalan, maka si cerdas akan memaksimalkan potensinya secara maksimal.

Si terdidik nan cerdas sungguh tak mau hanya mengandalkan teori yang ia pelajari, karena ia menyadari bahwa potensi diri bukan melulu mampu berpikir dengan baik, tetapi juga mampu mengerahkan dan memaksimalkan segala potensi yang ia miliki. (Lusius)