Prof. Dr. Efendi Napitupulu, M.Pd: "Pendidik Harus Mampu Membidik"

Prof. Dr. Efendi Napitupulu, M.Pd: "Pendidik Harus Mampu Membidik"
Prof. Efendi di ruang kerjanya di Unimed Medan.
Penasinergi - Penampilannya sederhana tetapi tetap bersahaja. Siang itu, Kamis (31/3) lalu Pena Sinergi mewawancarai Prof. Dr. Efendi Napitupulu, M.Pd di ruang kerjanya di Kampus Unimed Jl. William Iskandar Psr V Medan Estate.

Sungguh sebuah kehormatan bagi Pena Sinergi saat sang profesor menyediakan untuk menerima kedatangan PS. Berikut petikan wawancara Pena Sinergi - Majalah Pendidikan Online (PS) dengan Prof. Efendi Napitupulu, M.Pd. (EN):

PS: Selamat siang, Prof. Perkenalkan kami dari Pena Sinergi memfokuskan diri pada dinamika perkembangan dunia pendidikan saat ini. Kami minta waktu setengah jam ya untuk berbincang-bincang dengan profesor tentang situasi pendidikan saat ini. Sejauh profesor alami, lihat dan analisa sendiri, benarkah dunia pendidikan di negara kita saat ini sudah mengalamai kemajuan?

EN: Berbicara tentang pendidikan tak mungkin kita lepaskan dari peran pemerintah sebagai pengambil kebijakan. Selanjutnya, sistem pendidikan, lewat penetapan kurikulum nasional misalnya yang ditetapkan oleh pemerintah juga tak mungkin berjalan sendiri tanpa kesediaan para pendidik menjadi mitra dalam mewujudkannya.

PS: Menarik, Prof. Antara pihak pengambil kebijakan dan pihak yang mengimplementasikan kebijakan itu di 'lapangan' harus terjalin kemitraan yang strategis. Di satu sisi, kebijakan pemerintah di bidang pendidikan sudah bagus secara konseptual. Tetapi kenyataannya kesiapan sumber daya manusia (SDM) masih sangat mini, entah secara kuantitatif entah secara kualitatif. Bagaimana profesor menilai 'gap' ini?

EN: Gambarannya seperti ini. Siapa pun bisa menulis sebuah buku. Tetapi tak semua orang bisa mendistribusikan ilmu yang terkandung di dalam majalah itu ke pasar, tepatnya kepada para guru atau pendidik di sekolah-sekolah. Tentu saja seseorang tak akan menulis sebuah buku kalau ia tidak memiliki kemampuan menulis yang mumpuni.

PS: Jadi, prof. intinya adalah kerjasama. Maksud kami antara menteri, dinas-dinas, para guru dst harus terjalin kemitraan yang baik. Begitu juga antara Pusat dan Daerah harus terjalin komunikasi yang intens agar kebijakan itu bisa diimplementasikan di lapangan. Benar, prof?

EN: Tepat sekali. Orang-orang yang 'berhasil' di dunia pendidikan tak lain tak bukan adalah mereka yang mampu mensinergikan antara kebijakan dan tindakan di lapangan. Tak hanya para pendidik (guru dan dosen, red.) dan kaum terdidik (siswa dan mahasiswa), para pemerhati dan pemberi hati pada bidang pendidikan pun harus mampu bekerjasama dengan para pengambil kebijakan tadi. Tak terkecuali para penggiat media, termasuk Pena Sinergi.

PS: Bisa dijelaskan secara spesifik, Prof?

EN: Keberadaan sekolah dan universitas sebagai wahana bagi siswa dan mahasiswa untuk dididik rasanya tak cukup. Mahasiswa misalnya. Waktu mereka lebih banyak di luar kampus; dan dengan demikian diri mereka dengan sendirinya akan terbentuk oleh lingkungan bergaul mereka.

Saya beri contoh para guru di Sumut ini. Mayoritas para guru dan dosen tak memiliki passion untuk mengembangkan potensi dan kompetensi mereka sebagai tenaga pendidik. Hanya bila ada tuntutan mendesak atau paksaan dari pemerintah maka mereka terpaksa mengikuti berbagai program tertentu. Sebut saja karena kenaikan golongan atau demi kenaikan gaji para guru / dosen terpaksa kuliah atau mengikuti pelatihan.

Bisa Anda bayangkan apabila proses pembelajaran dijalankan tanpa kreativitas dari para pendidik itu sendiri. Maka, saya selalu menegaskan kembali pentingnya relasi yang sinergis antara pengambil kebijakan dengan orang-orang yang melaksanakan kebijakan itu sendiri.

PS: Lantas apa yang bisa dilakukan untuk menjembatani tegangan tadi?

Prof. Dr. Efendi Napitupulu, M.Pd
Prof. Dr. Efendi Napitupulu, M.Pd
EN: Di sinilah proses pembelajaran perlu memperhatikan kemampuan para pengambil kebijakan dalam mendeteksi kebutuhan para tenaga pendidik di lapangan, bahkan harus menjangkau daerah-daerah yang kurang mendapat perhatian.

Terkait dengan mirisnya situasi pendidikan di Sumut pemerintah harus lebih intens melakukan pendekatan. Mentalitas pragmatis dengan hasil minimalis dari para guru harus segera diberantas.

Kendati kebiasaan itu telah menjadi habitus, para penanggung jawab pendidikan, termasuk saya, harus turun ke lapangan, menjangkau dan membantu mereka keluar dari situasi itu.

Caranya antara lain tidak membiarkan para guru menjadi budak-budak penerbit buku yang telah menyediakan bahan ajar, pertanyaan dan jawaban hingga mereka cukup datang, duduk tanpa hadir secara total di kelas.

Maka, pelatihan demi pelatihan di bidang pendidikan, kendati sering sepi, harus tetap dilakukan. Tinggal kita harus mencari cara agar para guru itu tertarik dan mulai mencintai profesinya/

PS: Ada apa dengan Sumut, Prof. Bila situasi seperti yang profesor tuturkan tadi benar-benar terjadi, maka pikiran saya terusik oleh fungsi IKIP-IKIP yang kini telah berubah wujud menjadi universitas-universitas itu harusnya turut bertanggung jawab dong...

EN: Sekali lagi. Sumut itu beda dengan Jawa. Guru-guru di sini belum memiliki inisiatif seperti di Jawa. Tak hanya itu, guru-guru kita di sini juga berbeda dalam hal pengembangan kreativitas mereka. Kenyataannya, guru-guru kita lebih suka menunggu hingga ada tuntutan untuk mengembangkan diri. Itu pun lebih sering berlangsung sebagai formalitas aja.

PS: Kalau begitu, profesor masih optimis gak kalau mentalitas guru di daerah kita ini masih bisa berubah lebih baik?

EN: Tidak mungkin. Karena pengalaman saya turun ke daerah-daerah selama beberapa tahun belakangan, saya masih menyaksikan "kebiasaan menunggu" dan baru akan "bertindak setelah mereka dipaksa". Sama seperti kebijakan (kurikulum) tadi. para guru harus dipaksa / terpaksa untuk mengikuti pembekalan. Begitu juga dengan para dosen yang baru memutuskan kuliah S2 setelah ada kebijakan bahwa seroang dosen minimal harus S2.

PS: Kalau begitu semua stakeholder pendidikan harus membantu para guru untuk keluar dari apatisme mereka dong, prof?

EN: Kita telah melakukannya hingga ke daerah-daerah. Hasilnya belum menggembirakan. Inilah tantangan yang sesungguhnya di Sumatera Utara ini. Mentalitas pragmatis dan minim inisiatif tadi harus dipangkas. Bila penting mentalitas tadi harus dihindari sejak dini di dalam keluarga kita masing-masing. Revolusi Mental sebagaimana digaungkan Jokowi pada akhirnya hanya akan terwujud bila semua orang merasa bahwa ia membutuhkan orang lain. Pendidikan pun tak bisa dilepaskan dari ranah masyarakat, lingkungan dan alam semesta. Inilah bidikan setiap orang yang merasa diri sebagai pendidik dan orang yang pernah dididik, yakni membangun dunia yang lebih baik.

PS: Terimakasih atas kesediaan profesor berbincang dengan kami.
EN: Sama-sama. [Lusius/Dion]
PenaSinergi
Media Pendidikan dan Pelatihan (HC Consulting, Training & Coaching, Counseling & Facilitating for Personal Development, Self-Awareness, Leadership, and Communication & Excellent Attitude) dalam rangka pengembangan kualitas SDM Indonesia. Kirimkan tulisan Anda ke [email protected]

Related Posts

Follow by Email