25 Mar 2016

Pendidikan Ditengah Roh Hedonisme

0
“Menuruti keinginan daging, hidup itu menghamba pada dunia. Menuruti kehendak jiwa, hidup itu bebas merdeka tanpa jerat” adalah situasi Zaman kiwari. Manusia zaman ini dihinggapi virus materialistis dan hedonistis. Tiap orang berlomba mempertontonkan harta milikinya. Entah dari mana sumbernya... itu tak jadi soal.

Nyatanya budaya "kredit" telah menjadi potret suram kehidupan orang di negeri ini. Tak hanya mobil dan barang-barang elektronik supermahal, barang-barang remeh-temeh pun turutdi-"kredit".

Ini hebatnya pengaruh kapitalisme. Setiap orang seakan terlihat ketinggalan jaman bila tak memiliki barang-barang luxury. Entah, apakah nilai-nilai moral masih penting di saat tiap orang berebutan mengeruk untung demi mengumpulkan gepokan uang secara tak pantas? Toh, semua bisa dibeli.

Harkat dan martabat manusia, bahkan bisa dikonversi dalam lembaran uang. Demi memenuhi hasrat menjadi "seseorang", kebanyakan anggota masyarakat, memilih cara pintas, kendati mereka sadar bahwa hal itu sungguh tak pantas.

Manusia jaman ini tak pelak lagi telah keluar dari ke-DIRI-annya. Siapa sangka ada orangtua yang menggadaikan anak gadisnya demi sejumlah uang, memperdagangkan tubuhnya demi memenuhi segala keinginannya?. Siapa juga yang menyangka bahwa narkotika dan obat-obat terlarang dijadikan bahan dagangan yang mudah didapatkan?. Dan, akhirnya tak pernah terpikir oleh kita betapa barisan pejabat berdasi dan kaum selebritas, justru doyan korupsi. Lagi... dan lagi.. demi memenuhi keinginan mereka.

Hasrat untuk mendapatkan kebebasan dalam arti negatif (baca: bebas dari -) menggiring manusia jaman ini menjadi sangat individualis, dengan pola hidup asosial dan cenderung sangat egois. Bagi mereka, ajaran-ajaran moral, kode etis, etika dan estetik dan berbagai norma-norma kultural justru dianggap sebagai penghalang bagi kebebasan yang mereka inginkan.

Maka akan terdengar aneh dan ganjil, ketika kelompok masyarakat dengan ciri di atas sering menyebut dirinya orang beragama. Mereka memang beragama secara administratif, tetapi nilai-nilai agama justru mereka biarkan membusuk dalam kitab-kitab suci yang diwariskan nenek moyangnya.

Lantas, apa akar persoalan ini? (Si)apa yang sesungguhnya menggerakkan hidup manusia jaman ini?

Sikap tamak dan serakah akan harta benda dan uang tak lain adalah akar kegilaan ini. Orang tak mampu lagi membedakan mana kebutuhan dan mana keinginan. Pola hidup tradisional yang biasanya melenggang dalam kesederhanaan penuh ketulusan, oleh kelompok ini akan dipandang sebagai sesuatu yang kepo alias out of date.

Jangankan nilai-nilai luhur dari kebudayaaan yang melekat dalam diri mereka, ajaran agama sekalipun selalu mereka pandang sebagai sesuatu yang ganjil dan aneh. Nilai-nilai etis dan kebutuhan sosial untuk bersahabat dengan yang lain tak jarang mereka pandang sebagai sesuatu yang merusak individualitas dan kebebasan diri mereka.

Tak hanya masyarakat sekuler, ternyata umat beragama pun tak ketinggalan tergiur oleh pengaruh jaman ini. Di tempat-tempat ibadah, mereka bahkan tak sudi kenal satu sama lain, dan para pemimpin agama mereka pun tak lagi "tergoda" membantu orang yang membutuhkan. Di titik inilah - meminjam istilah Nietzsche, "Tuhan telah mati" menjadi sangat penting kita jadikan refleksi.

Siapa yang membunuh Tuhan?, Siapa yang membunuh kebaikan?, Tak lain adalah diri kita sendiri. Karena bagi kita, sesama bukanlah warga surga yang tampil dalam raga dan jiwa memesona. Bagi kita yang hidup di jaman ini, sesama adalah neraka. Sebab jauh lebih penting bagi kita untuk berkompetisi dengan orang lain daripada bersama membangun kompetensi untuk membantu orang yang membutuhkan.

Maka, layaklah kita merenungkan ungkapan Richard W. De Haan berikut ini, "Kehidupan orang beragama bukanlah beban, melainkan berkat. Memang akan ada rintangan, godaan, kekecewaan dan konflik. Namun berkat dan penyertaan yang murah hati dari Allah akan mencukupi semua kebutuhan manusia. Manusia yang dilahirkan oleh Roh, dan berjalan di dalam Roh telah menemukan satu-satunya jalan menuju kebahagiaan."

Akhirnya, marilah kita ber-SMS (Siap Menahan Selera), sebab hidup tak dibangun oleh selera sesaat. Sebaliknya, hidup adalah momentum yang sangat berharga dalam rangka memenuhi janji keselamatan Allah. (Dion/Lusius)
Author Image
AboutPenaSinergi

Soratemplates is a blogger resources site is a provider of high quality blogger template with premium looking layout and robust design