19 Feb 2016

Sigale-gale

0
Sigale-gale
Kalau Anda pergi ke Tomok atau ke Simanindo, Samosir Anda harus menyempatkan diri melihat sisa-sisa Si Gale-gale. Si Gale-gale merupakan sebuah seni tari yang terbilang unik karena menggunakan patung boneka berbentuk seorang manusia. Patung tersebut digerakkan oleh seorang dalang, dengan diiringi alat musik tradisional, layaknya seperti wayang kulit di daerah Jawa.

Orang setempat menyebut boneka itu dengan nama Si Gale-Gale. Sigale gale adalah boneka yang terbuat dari kayu dimodifikasi sedemikian rupa sehingga bisa digerakkan dari belakang. Ada tali yang menghubungkan bagian kepala dan lengannya sehingga Si Gale-Gale pun bergerak. Sigale-gale merupakan sebuah pertunjukkan kesenian daerah Samosir yang dimainkan pada saat adanya kunjungan pariwisata.

Pertunjukan kesenian berupa tarian boneka Sigale-gale sudah sangat langka. Jumlah boneka Sigale-gale pun konon tinggal beberapa saja. Tidak gampang membuatnya, ada kepercayaan di masyarakat Batak bahwa untuk membuat boneka Sigale-gale,sipembuat harus menyatu jiwanya pada boneka kayu buatannya itu agar si boneka bisa bergerak seperti hidup. Sejarah Si Gale Gale

Boneka Si Gale Gale. Diperkirakan Si Gale Gale sudah ada sejak 400 tahun yang lalu , ceritanya. Dihuta Samosir ada seorang raja memiliki seorang anak laki-laki. Bagi orang Batak di setiap huta/kampung mempunyai pemimpin yang disebut dengan Raja sesuai dengan wilayah kekuasaannya berdasarkan marga, misalnya marga Silalahi, maka di daerah tersebut yang berkuasa adalah raja silalai, demikian dengan marga-marga lainnya.

Biasanya antar raja selalu melakukan perebutan wilayah dengan cara perlawanan. Sebut saja seorang Raja dari daerah Samosir memerintahkan anaknya yang bernama Manggale melakukan perlawanan untuk merebut daerah di sekitarnya, dalam pertempuran tersebut manggale tewas. Sementara ia adalah anak satu-satunya dari keturunan Raja tersebut.

Mengetahui hal itu, Raja pun bersedih dan terpukul. Mengingat bahwa anaknya si Manggale adalah satu-satunya pewaris keturunan dari raja tersebut turut tewas dalam peperangan. Akhirnya Raja itupun jatuh sakit karena memikirkanbahwa ia tidak mempunai keturunan lagi.

Penyakit yang diderita Raja tersebut semakin kritis dan tidak ada harapan lagi untuk bertahan hidup. Para penasehat Rajapun berkumpul dan rapat untuk membahas kesembuhan Raja, segala obat-obatanpun sudah dilakukan untuk menyembuhkan penyakit yang diderita Raja.

Akhirnya para penasehat memanggil Datu (dukun) untuk membuatkankan patung kayu yang menyerupai wajah Manggale. Pergilah Datu tersebut ke hutan untuk mengambil kayu tertentu untuk memahat patung menyerupai wajah Manggale. Setelah patung tersebut selesai, berangkatlah para penatua dan penasehat kerajaan ke hutan dimana patung tersebut di pahat.

Dilakukanlah upacara ritual yang dipimpin Datu tersebut yakni meniup Sordam dan memanggil arwah anak sang raja agar masuk kedalam patung yang sudah jadi tersebut yang menyerupai Manggale.

Kemudian patung tersebut diusunglah ke kerajaan sembari dilaksanakan upacara Gondang Sabangunan. Setibanya rombongan di istana kerajaan, melihat patung yang menyerupai anaknya, Raja tersebutpun spontan sembuh dari penyakit yang dideritanya. Akhirnya Raja itupun bisa kembali memimpin Kerajaan melihat patung tersebut persis seperti wajah anak si Manggale.

*****

Sigale-gale
Saat ini, sigale-gale telah menjadi ikon pariwisata Provinsi Sumatera Utara secara umum, dan Samosir secara khususnya. Masih ada beberapa sisa patung yang dipahat puluhan tahun silam. Kita masih bisa menyaksikan sisa-sisa kemunculannya meski sangat jarang. Jika mau menonton langsung pertunjukan tradisional dari Tanah Batak itu, pergilah ke Samosir.

Ada empat tempat pertunjukkan si gale-Gale dua di antaranya mudah dijangkau yaitu desa Tomok dan Museum Hutabolon Simanindo. Pengunjung dapat memesan langsung pertunjukan Sigale-gale dengan bayaran tertentu. 

Boneka si Gale-Gale terbuat dari kayu yang di ukir persis menyerupai rupa manusia. Boneka si Gale-Gale dihiasi baju adat khas batak Samosir lengkap dengan kain ulos yang diselendangkan di pundak nya. Ulos atau sering juga disebut kain ulos adalah salah satu busana khas Indonesia.

Ulos secara turun temurun dikembangkan oleh masyarakat Batak, Sumatera. Dari bahasa asalnya, ulos berarti kain. Mangulosi adalah suatu kegiatan adat yang sangat penting bagi orang batak. Dalam setiap kegiatan seperti upacara pernikahan, kelahiran, dan dukacita ulos selalu menjadi bagian adat yang selalu di ikut sertakan. 

Warna kain ulos memiliki arti dan fungsi yang berbeda. Salah satu jenis kain ulos adalah Ulos Antakantak yaitu Ulos yang dipakai sebagai selendang orang tua untuk melayat orang yang meninggal, selain itu ulos tersebut juga dipakai sebagai kain yang dililit pada waktu acara manortor (menari). 

Pengunjung yang ingin menonton tari si Gale-Gale tidak dibatasi dari jumlah dan usia. Terkadang dua tiga orang yang tertarik, seperti turis mancanegara, dapat meminta kepada pengusaha pertunjukan untuk segera memainkannya dengan iringan alat musik tradisional yang disebut gondang Batak. Patung Boneka tersebut dapat menari dengan diiringi delapan sampai sepuluh penari. 

Rombongan anak-anak sekolah pun sering berkunjung ke Samosir untuk menyaksikan Sigale-gale dalam durasi tertentu dari pilihan-pilihan repertoar musiknya. Repertoar di dua tempat tersebut dapat membosankan jika melebihi satu jam. Apalagi sekarang musik pengiringnya sudah sering menggunakan rekaman kaset audio (playback). Suasana pertunjukan tarian boneka Sigale-gale memang sangat menarik dan menghibur. 


Upacara Si Gale-Gale 

Tor-Tor Si Gale-Gale biasa digunakan sebagai pelaksanaan upacara kematian didalam keluarga di daerah Samosir. Upacara ini dilakukan dengan iringan gondang sabangunan dan diikuti dengan tarian atau tor-tor dilakukan oleh anggota keluarga terutama anak lelaki dari keluarga dekat. Tari si Gale-gale ini dipercaya oleh warga Samosir untuk mengantarkan arwah mendiang keluarga. 

Dahulu Jika dalam keluarga batak tidak memiliki anak lelaki maka si Gale-Gale dianggap sebagai pengganti anak lelaki dalam keluarga tersebut. Perangkat yang Digunakan Dalam pelaksanaan upacara tarian si Gale-Gale digunakan boneka si Gale-Gale yang terbuat dari kayu yang dihiasi pakaian adat batak yaitu kain ulos. 

Alat musik dalam upacara si Gale-Gale adalah Gondang Sabangunan yaitu seperangkat alat musik tradisional yang terdiri dari suling batak, gendang, gong dimana alat musik ini dimainkan sambil manortor/menari. Sebagai perangkat alat musik, gondang sering disebut sebagai gondang Batak. 

Gondang Batak sering diidentikkan dengan gondang sabangunan atau ogung sabangunan dan kadang-kadang juga diidentikkan dengan taganing ( salah satu alat musik yang terdapat di dalam gondang sabangunan). Dari pengertian itu, alat musik batak lain yang disebut gondang hasapi atau yang dikenal sebagai uning-uningan dianggap sebagai bukan gondang Batak. Padahal alat tersebut juga termasuk gondang Batak. 

Gondang sabangunan dan gondang hasapi digunakan dalam upacara yang berkaitan dengan religi, adat maupun upacara seremonial lainnya.

Fungsi Si Gale-Gale 

Digunakan pada saat pelaksanaan upacara kematian yang disebut saur matua, yaitu orang tua yang sudah mempunyai cucu. Biasanya upacara dilakukan dua dengan bagian yaitu :
  1. Upacara di jabu (di dalam rumah) termasuk di dalamnya upacara di jabu menuju ke halaman rumah disebut maralaman.
  2. Upacara maralaman (di halaman), pada saat dihalaman rumah diadakan tarian dengan menggunakan bonekasi Gale-Gale sebelum mengantarkan jenazah ke liang kubur.
Manfaat boneka si Gale-Gale adalah untuk mengiringi upacara papurpus sabata yaitu upacara kematian keluarga batak Samosir. Ketika itu dipercayai boneka si Gale-Gale adalah sebagai pengganti anak laki-laki dalam keluarga batak jika dalam keluarga tersebut tidak ada anak lelaki. 


*) Tulisan ini diolah dari situs Kemendikbud 
**) Foto: Koleksi Lusius Sinurat

Lusius Sinurat
Author Image
AboutPenaSinergi

Soratemplates is a blogger resources site is a provider of high quality blogger template with premium looking layout and robust design

Tidak ada komentar: